Daftar Mahasiswa Bimbingan Skripsi smt ganjil 2020/2021, dengan pembimbing utama Dr. Tenia Wahyuningrum, M.T

NO PRODI NIM NAMA
1 RPL 17104018 Yudi Zidane Rahman
2 RPL 17104033 Sindhu Purnama Santoso
3 RPL 17104015 Rizky Maulana
5 RPL 17104028 Morleedia Adi Yahya
6 RPL 17104029 Muhammad amien sidiq
7 IF 16102156 Fadel Muhammad Luluan
8 IF 16102186 Ardiansyah Hermas Kahfinudin
9 IF 17102095 Ulung Priyo Bintoro
10 IF 17102109 Meliana Dewi
11 IF 17102110 Mochammad Iqbal Fatria
12 IF 17102116 Rut Elisabeth Aprilianti
13 IF 17102131 Khofifah Putriyani
14 IF 17102190 Thowaf Fuad Hasan
15 IF 16102013 Fajar Abdurrahman
16 SI 17103030 Florencia Irena Hendyantoro
17 SI 17103013 Maruli Naibaho
18 SI 17103062 Veronica Anggie Meida Eka Pratiwi

Saya suka mempelajari hal-hal baru. UI/UX merupakan ilmu yang saya tekuni dalam beberapa tahun terakhir, dan saya menyukainya. Perpaduan unik antara unsur teknologi, seni, psikologi dan beberapa ilmu lain membuat ilmu ini cukup “kaya”. Oleh karena itu, saya tidak pernah kelewatan untuk mengikuti pertemuan bulanan yang rutin diselenggarakan UX Research and Strategy, Texas. Monthly meeting kali ini diselenggarakan pada hari Jumat, 16 Oktober 2020 pukul 05.00 WIB. Materi yang disampaikan adalah memilih metode penelitian UI/UX oleh Meghan Rennie. Sekitar 300-an partisipan datang dari penjuru dunia, dan antusias mendengarkan penjelasan Meghan. Kami juga berdiskusi dan saling memberikan pendapat melalui kolom chat. Yang saya sukai dari pertemuan ini, diantaranya, saya bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat sama, kami menyebut sebagai komunitas UX enthusiasts.

Zoom meeting, Jumat pagi kami

Pada pertemuan kali ini, kami membahas pemilihan metode penelitian yang dianggap sebagai bagian dari rangkaian proses rancangan penelitian. Konteks peneliitan dan batasan yang dimiliki akan mempengaruhi kesuksesan dan pemilihan pendekatan penelitian. Para peneliti diharapkan untuk dapat mengenali audiens dan memahami ruang lingkup permasalahan. Batasan penelitian dapat berupa uang, waktu, asumsi, kebutuhan artefak yang diingingkan, peralatan, sensitifitas topik atau perhatian khusus mengenai privasi atau sesuatu yang berkaitan dengan etika dan hukum.

Meghan membagi perancangan framework menjadi empat kuadran, yang disebut “design thinking wayfinder” yang terdiri dari kuadran 1:  find a need, kuadran 2: build empathy, kuadran 3: , make to learn, kuadran 4: explore ideas. Fokus utamanya adalah menjawab pertanyaan apa tujuan saya? Apa yang harus saya lakukan? Ada dua cara menjawab pertanyaan ini, yaitu,

Build the Right thing : more unknown about your users than knowns

  • During flaring: Observation, field studies, contextual inquiry, interviews, competitive analysis
  • During focusing: Co-creation/ideation, desirability testing, survey, secondary research

Build the thing right : more unknowns about your solution than khowns

  • During flaring: Concept validation, think aloud, tree testing, card sorting
  • During focusing: Expert or heuristic evaluation, usability testing, content testing, A/B Testing

Pada dasarnya, pemilihan metode penelitian UX tergantung dari kebutuhan peneliti dan pengguna, keterbatasan yang ada, serta luaran yang diharapkan. Akan tetapi, pada intinya, dalam upaya memberikan pelayanan pada pelanggan, kita pasti ingin mengirimkan data yang valid, dapat dipercaya, menyiratkan tindakan, tahan lama, mudah diingat.

Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi pada pertemuan ini, silakan klik link ini.

 

Purwokerto, 19 Oktober 2020

“good fortune is what happens when opportunity meets with planning”

~Thomas Edison~

Kemarin pagi, saya menemukan buku-buku tulis semasa kuliah S3. Saya buka satu-satu lembarannya, dan seketika itu juga saya merasakan nostalgia. Waktu itu tidak pernah terpikir bagaimana bisa saya menyelesaikan semua prosesnya dengan cepat, saya hanya mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan saja. Banyak orang terjebak pada pikirannya sendiri, kuliah S3 itu sulit, dosen-dosennya perfeksionis, novelty yang tidak kunjung ditemukan, paper-paper yang tidak segera di accept oleh jurnal, belum lagi masalah ekonomi, anak-anak yang sering “terabaikan”, dll. Lalu belakangan saya mulai bisa merasakan apa yang dikatakan Thomas Edison benar, sebuah keberuntungan berasal dari kekuatan mimpi, terbukanya kesempatan, kebaikan rencana, dan keajaiban Tuhan.

Well Planned

Mimpi kuliah S3 telah membuat saya jadi sering “kepo” mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Saya sering bertanya-tanya pada senior (*dan juga tanya pada google pastinya) seperti apa sih kuliah S3, bagaimana cara mendaftar, universitas apa yang terbaik, beasiswa apa yang bisa saya ambil, sehingga, dari hasil tersebut, saya punya data base wawasan dan gambaran mengenai studi S3. Btw, saya kuliah S3 pada tahun 2016, tapi sudah sejak 2014, saya mulai mencari-cari informasi. Tahun 2015 saya belajar bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan bahasa, untuk persiapan TOEFL, sebagai syarat S3.

Setelah diterima menjadi mahasiswa, saya sempat down di semester-semester awal. Bayangan saya tentang kuliah yang menyenangkan, sirna sudah. Kuliah bagi saya seperti neraka, tidak ada semangat yang dulu menggebu-gebu di dalamnya. Saya berada dalam ketakutan luar biasa, saya takut tidak lulus mata kuliah. Saya takut mengulang. Saya takut tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Ketakutan-ketakutan itu muncul karena saya terlalu banyak mendengar cerita menyeramkan tentang dosen-dosen saya (dosen-dosen perfeksionis, killer, nilai pelit, dst), tentang kuliah di tempat saya (jurusan yang sulit, mustahil lulus 3 tahun), dst. Saya merasa sendirian, dan saya paling tidak suka merasakan penderitaan ini sendiri. Suatu hari saya sedang duduk di ruang tunggu, di sebelah saya ada kakak senior, namanya Pak Guruh Fajar Sidik, dosen UDINUS. Saya cuma ketemu dia sekali saja. Kami sama-sama sedang menunggu dosen saya. Dia katakan, “mbak, saya lulus 3 tahun, kamu juga bisa, jangan pulang sebelum selesai mengerjakan tugas, fokus, dan semangat”.  Melihat ada sosok kakak kelas yang bisa lulus dengan cepat (meskipun disini jarang yang bisa lulus cepat, pak Guruh termasuk yang outstanding sih), saya jadi semangat lagi. Jadi, kemarin-kemarin saya down sampai masuk rumah sakit itu, karena saya sibuk dengan pikiran buruk saya sendiri. Saya kebanyakan mendengar cerita gagal daripada cerita sukses, hahaha.

Saya mulai mengatur rencana. Rencana saya begini, kalau mau lulus 3 tahun, disertasimu harus selesai dalam waktu 2,5 tahun, termasuk paper yang dijadikan syarat publikasi harus selesai juga. Sisakan 1 semester sebagai cadangan, karena saat masuk proses penilaian, kelayakan, dan menunggu ujian disertasi itu bisa makan waktu berbulan-bulan (ini tergantung dari kesiapan tim penilai disertasi kita, dan itu diluar kewenangan kita).

Jadi setiap hari saya akan menuliskan to do list, supaya saya tidak sia-sia sudah meninggalkan anak dan suami ke Jogja untuk kuliah, kalau disana saya nggak ngapa-ngapain, rugi. Kata orang, an hour of planning can save you 10 hours of doing. Meja kerja saya desain sedemikian rupa, sehingga saya jadi lebih semangat. Meja kerja saya paling heboh dan ramai dibanding yang lain. Saya siapkan pernak pernik tulis menulis dengan lengkap, minuman, makanan, biar saya bisa semangat kerja. Biarin saya dikatain alay, luweh, hahaha.

Saya mulai menjadi diri saya sendiri, saya mulai bergaul dengan teman-teman yang baik, saya menciptakan sendiri kebahagiaan saya, buat positive vibes, saya mulai bangkit. Meskipun nilai-nilai saya tidak sempurna, saya melaju terus, pelan, tapi pasti.

Saya menulis setiap hasil eksperimen, kata-kata sulit, resume jurnal ke dalam buku tulis dan blog, saya tahu saya orangnya pelupa, jadi saya harus rajin menulis. Saya bergaul dengan banyak orang, supaya saya punya banyak pandangan dalam menyikapi hidup ini, terutama saat studi S3. Saya ikut banyak acara workshop, pelatihan, seminar gratisan, olahraga di kampus. Berkenalan dengan teman-teman sesama pejuang disertasi dari berbagai jurusan dan fakultas. Supaya saya tidak merasa sendiri, dan banyak bersyukur. Play hard, work hard. Di sela-sela kuliah, saya juga nge mall, nonton, hangout, dengan proporsi waktu tertentu. Jangan biarkan kita terjebak dalam rutinitas membosankan yang bikin pikiran juga nanti ikut mandeg. Saat “relax time”, jangan pikirkan disertasi, santai saja, nikmati apa yang ada di hadapan kita.

 

Keajaiban Tuhan

Kata-kata usaha tidak menghianati hasil tentu memang benar. Saya meyakinkan diri, bahwa Tuhan melihat apa yang kita usahakan. Jangan meremehkan kekuatan doa kita, suami, ayah, ibu, keluarga, teman, pengamen, tukang ojek, tukang becak, tukang koran, tukang sampah, orang yang tidak kita kenal yang pernah kita tolong. Merekalah yang membantu saya mengkomunikasikan pada Tuhan untuk membukakan saya mendapatkan novelty, melalui proses bertanya dan belajar dari dosen dan teman-teman saya (*ternyata dosen-dosen saya tidak se killer itu pemirsaaaa, mereka baik kok), doa mereka juga menolong saya saat jurnal saya tidak kunjung terbit, meskipun sudah ada LOA (*sad), dan karena doa mereka pula saya bisa menjadi seperti ini.

Dream and make it happen!

Purwokerto, 23 September 2020

“life has no remote, get up and change it yourself”

 

Beberapa waktu yang lalu, UX research and strategy kembali membuat webinar yang menarik. Kali ini temanya tentang contextual inquiry, going remote with an in-person technique. Webinar ini disampaikan oleh Deb Gelman dari Experience Design.

Apa itu contextual inquiry?

Contextual inquiry merupakan metode penelitian etnografi untuk memahami perilaku, kebutuhan, dan harapan pengguna, dilakukan dengan mengamati pengguna saat menyelesaikan tugas di lingkungan mereka sendiri. Contextual inquiry penting dilakukan karena apa yang pengguna lakukan dan pengguna katakan seringkali sangat berbeda. Apa yang pengguna butuhkan dan pengguna katakan juga seringkali berbeda jauh. Satu-satunya jalan untuk memahami kebutuhan pengguna, yang dilakukan pengguna dan harapan pengguna adalah dengan mengamati mereka pada habitat alaminya, mengerjakan apa yang dilakukan sehari-hari, untuk membatu kita membuat persona, mengartikulasikan perjalanan pengguna dan solusi rancangan yang bermakna bagi pengguna dan masalah bisnis.

 

Ada 3 aktivitas penting dalam contextual inquiry, yaitu observe (amati), ask (tanya), dan capture (tangkap). Lalu bagaimana ketika kita melakukan semua ini secara remote? Berikut beberapa tipsnya :

Break it up

Bagilah beberapa aktivitas menjadi beberapa sesi, observe: saat kita melihat partisipan menyelesaikan tugas, tanya: kerjakan interview terpisah sebelum dan sesudah observasi, dokumen: mintalah partisipan untuk mengambil foto/merekam diri sendiri saat menyelesaikan tugas.

Use technologies

Gunakan beberapa perangkat dan aplikasi yang mendukung pengamatan.

Narrow your focus

Fokus pada aliran per partisipan, per sesi. Hal ini akan memberikan waktu untuk memastikan teknologi telah bekerja dengan baik, membuat partisipan nyaman, dan kita bisa menyelami lebih dalam.

Play with your tools

Gunakan penelitian diary studies, dan in-depth interviews dibandingkan hanya mengandalkan observasi real-time. Cara ini dapat meng-cover semua hal yang mungkin akan terlewat.

Self reflect

Saat melakukan remote contextual research, kita tidak menyatu dengan partisipan secara fisik. Cobalah untuk menghilangkan diri kita supaya partisipan tidak terganggu. Tempatkan diri kita di ruang fisik kita sendiri, perhatikan dunia di sekitar, dokumentasikan setiap bias, kesan, atau refleksi yang mungkin kita miliki, tindak lanjut sesuai kebutuhan, bersikap baik kepada diri sendiri.

Presentasi Deb Gelman dapat diakses melalui link ini .

Purwokerto, 20 September 2020

Tenia Wahyuningrum

Ada berapa banyak akun sosial media yang anda miliki? Facebook (FB), Instagram (IG), Whatsapp (WA), Twitter. Bagaimana dengan konten sosial media Anda di platform yang berbeda? Apakah isinya juga berbeda?

Jutaan likes dari aplikasi FB tiap menit terjadi di seluruh dunia, membuat FB merupakan sosial media yang populer. Tua muda suka dengan FB. Banyak studi menemukan bahwa status Facebook dengan panjang sekitar 40 hingga 80 karakter memiliki performa yang paling maksimal. Dilansir dari Express Writers Infographic menyatakan bahwa post sebaiknya kurang dari 40 karakter saja agar bisa mendapatkan 85% perhatian dibanding dengan postingan yang lebih panjang. Sementara itu postingan dengan 80 karakter lebih mendapatkan perhatian sebesar 66% saja. Sedangkan batas karakter postingan Facebook adalah 63,206 karakter tidak termasuk foto atau video, dan untuk username, ukuran maksimalnya adalah 50 karakter.

Berbeda dari FB, kekuatan IG ada pada foto, dan hashtag (tagar). Penggunaan hashtag akan meningkatkan keterlibatan pengguna sekitar 12% daripada postingan tanpa tagar (simply measured, 2019). Pastikan tagar mudah dibaca dan dieja dengan menghindari huruf ganda serta kata-kata yang biasanya salah eja. Jaga agar tagar singkat, sederhana, dan mudah dieja sehingga penggemar dan pelanggan dapat dengan mudah mengingatnya.

Tuliskan tagar ebih spesifik, tetapi jangan terlalu detil seperti “#semangatuntukhindarinarkoba”. Tagar seperti ini untuk IG edukasi tidak akan tersentuh karena memiliki terlalu banyak karakter. Tagar “#semangatyuk“atau “antinarkobabisa” lebih masuk akal dalam kasus ini. TrackMaven menyatakan bahwa jumlah hashtag paling ideal adalah 9 buah (https://trackmaven.com/blog/how-to-use-hashtags/).

Purwokerto, 21 Agustus 2020

“Virtual teaching will never replace the love, the laughs, the learning, the smiles on students’ faces. The quarantine isn’t a break for teachers and students; it’s a heartbreak ?

 

 

Sisi positif di masa pandemi ini, banyak orang hebat sedekah ilmu. Ada yang berbayar (sering kali dengan diskon besar-besaran), ada pula yang digratiskan. Banyaknya event menarik tak jarang membuat kita menjadi sulit untuk memilih, apalagi jika acaranya berbarengan dengan kegiatan lain yang kita nilai cukup penting. Seseorang bisa saja membuka dua aplikasi berbeda untuk mengikuti berbagai kegiatan di dunia maya. Tapi, apa bisa?

Dalam ilmu interaksi manusia dan komputer, human performance, terutama soal human attention itu terbatas. Attention/atensi/perhatian, sering kali dibedakan menjadi dua: divided attention dan selected attention. Divided attention adalah proses konsentrasi dan mengerjakan tugas pada saat waktu. Texting sambil nyetir contohnya, dan efeknya sudah jelas (berbahaya!). Di dalam kasus lain, divided attention tidak punya masalah berarti, seperti saat berjalan sambil berbicara. Selected attention (atau biasa disebut focused attention) beda lagi. Perhatian terhadap satu tugas untuk mengabaikan yang lain. Contohnya, kita bisa bicara dengan teman kita di dalam ruangan yang sesak dan penuh kebisingan sambil mengabaikan obrolan orang asing. Tapi ini ada batasannya. Dalam percakapan tersebut kita kadang-kadang tidak dapat mengingat kata-kata yang baru saja diucapkan karena perhatian kita melayang atau ditarik oleh gangguan (MacKenzie. 2013. hlm 64).

Selected attention, adalah kemampuan manusia untuk mengabaikan peristiwa-peristiwa asing dan untuk mempertahankan fokus pada tugas penting. Satu teori perhatian selektif menyatakan bahwa kemampuan kita untuk menghadiri secara selektif suatu keadaan yang memiliki nilai penting bagi individu. Seseorang yang mendengarkan pidato kemungkinan akan berhenti mendengarkan jika nama orang tersebut diucapkandari lokasi lain (Keele, 1973, hlm. 140). Nama seseorang sendiri secara intrinsik penting dan cenderung mengganggu kemampuan untuk menghadiri pidato secara selektif. Jelas, kepentingan itu subjektif.

Wickens memberikan contoh kecelakaan pesawat terbang di mana penerbangan kru disibukkan dengan kerusakan di kokpit yang tidak ada kaitannya dengan keselamatan penerbangan (Wickens, 1987, hlm. 249).

Lalu bagaimana dengan kita? Bisakah kita hadir di dua zoom meeting dan mendapatkan ilmu dari narasumber? Alih-alih menginginkan keduanya, justru kita mungkin malah tidak dapat apa-apa (kecuali kita hadir, untuk diam-diam merekam, dan menontonnya kembali suatu saat nanti, tapi penyelenggara webinar yang diadakan tidak ingin acaranya adem ayem karena pentontonnya sibuk dengan webinar lain kan? Mereka pasti juga butuh feedback untuk acara tersebut). So, be wise, don’t be greedy, jangan mentang-mentang gratis, lalu kita ngikut semua webinar tersebut. Pandailah memilih, jangan sampai kita sudah dapat sertifikat, begitu ditanya, isinya apa, bisa kasih resumenya? Jawabannya “gak tau”.

Purwokerto, 3 Juli 2020

Easy is hard. (Peter Lewis)

Pengalaman pengguna (user experience ~ UX) memiliki 3 karakteristik utama, yaitu 1) adanya keterlibatan seorang pengguna, 2) adanya interaksi dengan produk, sistem, atau apa pun yang berhubungan dengan antarmuka, 3) pengalaman pengguna dapat diamati atau diukur. Ukuran UX mengungkapkan sesuatu tentang interaksi antara pengguna dan produk (dalam ISO / IEC 9126-4 disebut usability metric) terdiri dari beberapa aspek efektivitas (mampu menyelesaikan tugas),
efisiensi (jumlah upaya yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas), atau kepuasan (sejauh mana pengguna senang dengan pengalamannya saat melakukan tugas).

 

Efektivitas

Completion Rate

Efektivitas dapat dihitung dengan mengukur tingkat penyelesaian tugas. Disebut sebagai ukuran usability dasar, tingkat penyelesaian dihitung dengan menetapkan nilai biner ‘1’ jika peserta tes berhasil menyelesaikan tugas dan ‘0’ jika dia tidak. Efektivitas dengan demikian dapat direpresentasikan sebagai persentase dengan menggunakan persamaan sederhana ini:

Efektifitas = jumlah task yang selesai/komplit dikerjakan dibagi dengan total task yang diambil dikali 100%.

 

Number of Error

Pengukuran lain melibatkan penghitungan jumlah kesalahan yang dilakukan peserta saat mencoba menyelesaikan tugas. Kesalahan dapat berupa tindakan yang tidak disengaja, kesalahan, kesalahan atau kelalaian yang dilakukan pengguna saat mencoba tugas. Anda sebaiknya memberikan deskripsi singkat, peringkat keparahan dan mengklasifikasikan setiap kesalahan di bawah kategori masing-masing.

Berdasarkan analisis 719 tugas yang dilakukan menggunakan perangkat lunak konsumen dan bisnis, Jeff Sauro menyimpulkan bahwa jumlah rata-rata kesalahan per tugas adalah 0,7, dengan 2 dari setiap 3 pengguna membuat kesalahan. Hanya 10% dari tugas yang diamati dilakukan tanpa kesalahan, sehingga mengarah pada kesimpulan bahwa sangat normal bagi pengguna untuk membuat kesalahan saat melakukan tugas.

 

Efisiensi

Time base efficiency

Efisiensi berdasarkan waktu pengerjaan tugas memiliki satuan goals/sec.

dimana,

N = The total number of tasks (goals)
R = The number of users
nij = The result of task i by user j; if the user successfully completes the task, then Nij = 1, if not, then Nij = 0
tij = The time spent by user j to complete task i. If the task is not successfully completed, then time is measured till the moment the user quits the task

Overal task efficiency

Efisiensi relatif keseluruhan menggunakan rasio waktu yang diambil oleh pengguna yang berhasil menyelesaikan tugas dalam kaitannya dengan total waktu yang diambil oleh semua pengguna. Dengan demikian persamaan dapat direpresentasikan sebagai berikut:

 

Misalkan ada 4 pengguna yang menggunakan produk yang sama untuk mencoba melakukan tugas yang sama (1 tugas). 3 pengguna berhasil menyelesaikannya – masing-masing mengambil 1, 2 dan 3 detik. Pengguna keempat membutuhkan waktu 6 detik dan kemudian menyerah tanpa menyelesaikan tugas.
Mengambil persamaan di atas:
N = Jumlah total tugas = 1

R = Jumlah pengguna = 4
Pengguna 1: Nij = 1 dan Tij = 1

Pengguna 2: Nij = 1 dan Tij = 2

Pengguna 3: Nij = 1 dan Tij = 3

Pengguna 4: Nij = 0 dan Tij = 6

Maka nilai-nilai di atas dapat dihitung dengan hasil sbb :

Kepuasan

Task level satisfaction

Setelah pengguna mencoba suatu tugas (terlepas dari apakah mereka berhasil mencapai tujuannya atau tidak), mereka harus segera diberikan kuesioner untuk mengukur seberapa sulit tugas itu. Biasanya terdiri dari hingga 5 pertanyaan, kuesioner pasca tugas ini sering mengambil bentuk peringkat skala Likert dan tujuannya adalah untuk memberikan wawasan tentang kesulitan tugas seperti yang terlihat dari perspektif peserta. Kuesioner yang biasa digunakan adalah SEQ (Single Ease Question) yang hanya terdiri dari 1 pertanyaan : “secara umum, bagaimanakah penilaian pengguna terhadap sistem?”. Jawaban dari pertanyaan tersebut berupa skala likert 1-5 (semakin besar angkanya, semakin puas).

Test level satisfaction

Kepuasan Level Tes diukur dengan memberikan kuesioner yang diformalkan kepada setiap peserta tes pada akhir sesi tes. Ini berfungsi untuk mengukur kesan mereka terhadap keseluruhan kemudahan penggunaan sistem yang sedang diuji. Untuk tujuan ini, kuesioner berikut dapat digunakan (peringkat dalam urutan menaik dengan jumlah pertanyaan):

  1. SUS: Skala Kegunaan Sistem (10 pertanyaan) (biasa disebut quick and dirty test)
  2. SUPR-Q: Kuisioner Tingkat Pengalaman Pengalaman Standar untuk Pengguna (13 pertanyaan)
  3. CSUQ: Kuesioner Kegunaan Sistem Komputer (19 pertanyaan)
  4. QUIS: Kuisioner Untuk Kepuasan Interaksi Pengguna (24 pertanyaan)
  5. SUMI: Inventarisasi Pengukuran Kegunaan Perangkat Lunak (50 pertanyaan)

Demikian cara-cara mengukur user experience, semoga bermanfaat.

 

Purwokerto, 15 Juni 2020

Tenia Wahyuningrum

Pendidikan adalah senjata ampuh mengubah dunia ~ Nelson Mandela

 

Memilih perguruan tinggi berkelas dunia

Masa pandemi segera berakhir, siswa-siswi akan mulai bersekolah kembali. Bagi yang tahun ini merayakan kelulusan SMA (meskipun mungkin wisuda secara online), tentu saat ini sebagian diantaranya sedang atau bahkan sudah mulai mendaftar ke perguruan tinggi idaman. Apa sih kriteria perguruan tinggi yang baik? Bagaimana cara melihat kualitas perguruan tinggi? Mengapa sebuah perguruan tinggi disebut sebagai universitas terbaik?

Mengadopsi terminologi World Class University (WCU), penjaminan perguruan tinggi meliputi keunggulan akademik dan pengajaran, kualitas penelitian, pengembangan dan diseminasi pengetahuan, dan kegiatan yang berkontribusi pada budaya, ilmu pengetahuan, dan masyarakat (Levin, 2006). Berbagai kriteria tersebut kemudian mendorong universitas untuk melakukan upaya-upaya untuk menjadi yang terbaik di tingkat dunia (Mohsen Nazarzadeh Zare, Javad Pourkarimi, Gholamreza Zaker Salehi, 2016). Namun demikian, ada beberapa kendala dalam mencapai WCU yang dianggap kurang objektif, karena banyak kriteria penilaian yang berbeda (Altbach and Salmi, 2011). Kriteria-kriteria yang dikeluarkan oleh berbagai macam versi pemeringkatan universitas seperti Quacquarelli Symonds(QS), Unirank, ataupun webometric, berbeda-beda. Akan tetapi, pemeringkatan perguruan tinggi merupakan salah satu bentuk pengakuan dunia terhadap jaminan mutu akademik, sehingga sering dijadikan acuan dalam memilih universitas.

Pemeringkatan QS didasarkan pada penilaian peer review dan employer review, maka hal ini tidak terlalu menguntungkan bagi universitas yang belum benar-benar memenuhi standar, terutama pada negara-negara tertentu. Jumlah riset dengan pengindeks scopus tentu memiliki konsekuensi biaya yang tidak sedikit. Sedangkan proporsi pertukaran mahasiswa ke luar negeri merupakan indikator yang lumayan sulit untuk negara-negara berkembang. Sedangkan uniRank menempatkan perguruan tinggi dan universitas berdasarkan popularitas dan penggunaan situs web mereka; sesuai klaim mereka, uniRank tidak mengukur kualitas sekolah atau program mereka berdasarkan kualitas pendidikan atau kualitas layanan.

Webometrics memiliki kriteria penilaian salah satunya didapatkan dari kualitas websitenya. Setiap tahun, satu juta orang mengunjungi website universitas untuk mencari informasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain mencari informasi perkuliahan, mengganti jadwal kuliah, penelitian dosen, skripsi mahasiswa atau kontak informasi dosen. Terutama di masa pandemi COVID-19, terdapat perubahan aktifitas offline menjadi online. Aktifitas di dunia maya menjadi lebih ramai, dan lebih komprehensif. Webometric merupakan sebuah terobosan dari Cybermetrics Lab, sebuah kelompok riset dari Centro de Ciencias Humanas Sociales (CCHS), yang merupakan bagian dari Dewan Riset Nasional Spanyol (Kargar, 2011).

 

UNTAN Membangun Ekosistem Digital Menuju Cyber University

Rilis webometrics pada Januari 2020 menunjukkan peringkat webometrics untuk Universitas Tanjungpura (UNTAN) yaitu 6906 dunia, dan 143 ranking di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa UNTAN telah menduduki posisi yang sangat baik, diantara 2304 perguruan tinggi lain di negeri ini. Namun sayangnya, posisi UNTAN pada tahun ini ternyata menurun dari beberapa tahun sebelumnya. Tahun 2016, UNTAN menduduki peringkat 38 se Indonesia, lalu tahun 2017 turun menjadi 51, dan 2018 sempat naik menjadi 40, lalu 2019 turun lagi menjadi ranking 97 (http://www.webometrics.info/en).

Penurunan selama dua tahun berturut-turut seharusnya menjadi “warning sign” untuk tetap melakukan berbagai strategi dalam memperoleh pengakuan dunia terhadap kualitas perguruan tinggi, antara lain dengan membangun ekosistem digital menuju cyber university. Ekosistem digital menjadi model yang berfokus pada stakeholder, diantaranya mahasiswa, dosen, dan industri pengguna lulusan menuju ke arah layanan yang lebih baik. Pendidikan akan menjadi aset terbaik bangsa, karena tidak dipengaruhi oleh situasi apapun, bahkan menjadi bidang yang tetap bertahan pada situasi pandemi COVID-19 sekalipun. Oleh karena itu cyber university menjadi pilihan terbaik UNTAN dalam strateginya menuju universitas berkelas dunia.

Rekomendasi dan Strategi

Sebelum menuju ke pembahasan rekomendasi dan strategi, mari kita lihat dulu indikator, arti, metodologi, sumber data, dan bobot masing-masing kriteria penilaian pemeringkatan webometrics berikut ini.

INDIKATOR ARTI METODOLOGI SUMBER BOBOT
PRESENCE Pengetahuan yang dibagikan ke publik  Ukuran (jumlah halaman) dari domain web utama institusi. Ini mencakup semua subdomain yang berbagi domain web (pusat / utama).  Google 5%
VISIBILITY Dampak konten web  Jumlah jaringan eksternal (subnet) yang terhubung ke halaman web institusi (dinormalisasi dan kemudian nilai rata-rata).  Ahrefs
 Majestic
50%
TRANSPARENCY
(or OPENNESS)
Peneliti teratas yang dikutip Jumlah sitasi dari 110 penulis teratas (excl. top 10 outliers).
Lihat Transparent Ranking untuk info lebih lanjut.
 Google Scholar
 Profiles
10%
EXCELLENCE
(or SCHOLAR)
Paper teratas yang dikutip Jumlah makalah di antara 10% teratas yang paling banyak dikutip di masing-masing dari 26 disiplin ilmu dari basis data lengkap.
Data untuk periode 5 tahun : 2013-2017
  Scimago 35%

 

Sejalan dengan pemeringkatan universitas dunia, rekomendasi untuk UNTAN sebagai universitas terbaik di Kalimantan adalah melakukan upaya-upaya memenuhi kriteria webometrics sebagai berikut.

Presence

Strategi: Menambahkan sejumlah domain yang berafiliasi pada domain utama (blog, sistem informasi akademik, sistem penerimaan mahasiswa baru). Berdasarkan penelusuran pada situs nmmapper, ditemukan total 138 subdomain unik yang berasal dari domain utama pada http://www.untan.ac.id/. Sub domain tersebut antara lain blog dosen dan mahasiswa (blog.untan.ac.id), website badan eksekutif mahasiswa (bem.untan.ac.id), Unit Pelaksana Teknis (upt-labterpadu.untan.ac.id), dan situs untuk sarana penerimaan mahasiswa baru Ujian Tulis Berbasis Komputer (utbk.untan.ac.id). Jumlah subdomain mencerminkan banyaknya pengetahuan yang dibagikan kepada publik. Jika dibandingkan dengan Unversitas Gadjah Mada (jumlah total subdomain 580 buah), maka UNTAN perlu menambahkan beberapa subdomain lagi, khususnya untuk membagikan aktivitas kampus, seperti setiap dosen dan mahasiswa diwajibkan membuat blog dan menuliskan materi kuliah, tugas ataupun kegiatan pengabdian mereka di blog tersebut.

Visibility

Strategi: Memperbanyak link web dengan meningkatkan link internal melalui link blogroll, atau membuat lomba blog seperti saat ini merupakan cara terbaik untuk menambah visibility. Berdasarkan pengamatan pada situs ahrefs tanggal 12 Juni 2020, dapat dilihat bahwa jumlah backlink pada situs http://www.untan.ac.id/ sebanyak 359.000, dengan rincian domain yang bereferensi yaitu diantaranya dari pemerintahan (.gov) dan pendidikan (.edu).

Referring domains  100%
Dofollow  1,099 85%
Governmental  0 0%
Educational  44 3%
.gov 0 0%
.edu 1 1%
.com 959 74%
.net 36 3%
.org 46 4%

Penambahan jumlah backlink sebaiknya yang berorientasi pada situs pendidikan atau pemerintahan untuk meningkatkan “prestise” universitas.

Openness

Strategi: Membangun digital library, repository, membuka publikasi dosen dan mahasiswa (open access). Dilansir dari Google Scholar pada tanggal 12 Juni 2020, data dokumen sivitas akademika UNTAn sebanyak 17,618 dan jumlah sitasi sebesar 30,814. Untuk meningkatkan jumlahnya dokumen maupun sitasinya, lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat dan universitas perlu memberikan stimulus publikasi, bisa berupa reward untuk dosen yang dapat meraih sitasi terbanyak.

Scholar

Strategi: Menambah jumlah publikasi pada jurnal bereputasi, membuat jurnal, mendorong sivitas akademika untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi. Dilihat dari jumlah dokumen yang terindeks scopus pada tahun 2020, baru sekitar 11 dokumen (sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah program studi dan dosen). Tahun 2018, jumlah dokumen sebanyak 78, sedangkan tahun 2019 ada penurunan sebanyak 7 poin, menjadi 71 buah. Untuk meningkatkan jumlah kutipan pada paper, perlu adanya kelompok keahlian antar perguruan tinggi atau di dalam program studi menggerakkan satu penelitian yang bertema sama, agar dapat saling bersinergi sehingga meningkatkan jumlah sitasi.

Nah, beberapa rekomendasi dari hasil analisis kecil-kecilan saya, yang sudah diungkapkan diatas semoga dapat menjadikan UNTAN lebih maju dan mewujudkan cita-cita sebagai cyber university, sehingga dapat bersaing dengan perguruan tinggi dunia, diakui sebagai world class university. Sukses terus UNTAN!

 

Purwokerto, Juni 2020

Tenia Wahyuningrum

 

 

Referensi

Altbach, P. G. and Salmi, J. (2011) The Road to Academic Excellence-The Making of World-Class Research universities. doi: 10.1596/978-0-8213-8805-1.

Kargar, M. J. (2011) ‘University Website Ranking from Usability Criteria Perspective; A Case Study in IRAN’, International Journal of Advancements in Computing Technology, 3(11), pp. 246–251. doi: 10.4156/ijact.vol3.issue11.31.

Levin, H. M. (2006) ‘What is A World Class University’, in Conference of the Comparative and International Education Society. Honolulu, Hawaii, pp. 1–49.

Mohsen Nazarzadeh Zare, Javad Pourkarimi, Gholamreza Zaker Salehi, S. R. (2016) ‘In Search of a World-Class University in Iran’, Journal of Applied Research in Higher Education, 8(4), pp. 522–539. doi: https://doi.org/10.1108/JARHE-03-2016-0021.

 

Universitas Tanjungpura

mawar merah adalah simbol keberanian dan kekuatan cinta

Di dunia komputasi, ikon adalah pictogram atau ideogram yang ditampilkan pada layar komputer untuk membantu pengguna melakukan navigasi pada sistem komputer. Ikon merupakan simbol alat pada perangkat lunak, fungsi, atau file data yang dapat dipahami dengan cepat, dapat diakses pada sistem dan berfungsi seperti tanda lalu lintas daripada ilustrasi terperinci tentang entitas aktual yang diwakilinya.

 

Resemblance Icons

Cara membuat ikon dengan menggambarkan objek fisik yang mirip untuk diwakili ikon. Gambar amplop untuk mewakili file surat elektronik, gambar map untuk folder, luv (kaca pembesar)/magnifier untuk memperbesar dan mengecilkan objek disebut resemblance icons (ikon yang dibuat berdasarkan kemiripan di dunia nyata). Tantangan kegunaan utama untuk ikon kemiripan adalah untuk merancang gambar yang benar-benar terlihat seperti objek yang dimaksudkan. Tidak begitu mudah mengingat ukurannya yang mungil.

Reference Icons

Menggambarkan beberapa objek dengan referensi atau analogi mungkin mewakili konsep ikon dimaksudkan untuk mewakili. Misalnya, menggunakan gambar klem untuk mewakili utilitas kompresi file (karena diperas) disebut reference icons (ikon referensi). Hal ini akan menjadi sulit untuk menghasilkan ikon kemiripan yang baik untuk kompresi file kecuali melalui penggunaan kombinasi sebelum dan sesudah dokumen besar dan kecil, tetapi ikon yang menunjukkan perubahan status sangat sulit untuk dipahami. Ikon referensi kadang-kadang juga disebut ikon simbolik atau ikon indeks.

Arbitary Icons

Arbitary icons adalah bentuk sewenang-wenang yang hanya memiliki makna berdasarkan konvensi. Rambu lalu lintas seringkali menjadi contoh arbitary icons dan dapat membentuk sumber ikon  yang baik karena penggunaannya yang berstandar internasional. Misalnya, segitiga peringatan dapat digunakan sebagai ikon untuk pesan peringatan. Jelas, arbitary icons adalah yang paling sulit bagi pengguna untuk dipelajari, kecuali mereka digunakan secara luas sehingga konvensi menjadi kebiasaan. Misalnya, diragukan bahwa banyak orang khawatir bahwa bentuk tanda tanya “?” sepenuhnya sewenang-wenang sebagai indikator pertanyaan. Sehingga, ikon “?” adalah ikon yang baik untuk menunjukkan “bantuan” karena disana akan ada pertanyaan.

Jika tidak di rancang dengan baik, ikon akan menambah kesulitan dalam penggunaan perangkat lunak, oleh karena itu, perlu ada observasi terlebih dahulu saat membuat ikon. Sebagai penutup, saya punya satu pertanyaan, jika tidak diberi keterangan, apakah kalian bisa menebak, ikon apa saja ini?  (ikon-ikon ini saya ambil dari web https://publons.com/dashboard/summary/).

 

 

Purwokerto, 6 Mei 2020

“Media sosial”

Tahun 2019, statistik pengguna media sosial di dunia telah mencapai sekitar 3,5 milyar (Ermasys, 2019), dengan rata-rata menghabiskan waktu sekitar 3 jam perhari untuk mengaksesnya (Globalwebindex, 2019). Media sosial tidak hanya disukai kaum milenial (90,4%), tapi juga oleh generasi baby boomer dan generasi X (Emarketer, 2019). Oleh karena itu, penggunaan media sosial seharusnya telah menjadi hal yang biasa di kalangan pengguna internet, dan seharusnya dapat ditingkatkan pemanfaatannya, terutama untuk edukasi (pendidikan). Seiring dengan dampak pandemi covid-19, dimana setiap orang di dunia ini harus bekerja dari rumah, dan sekolah dari rumah, maka, kami menawarkan suatu hal yang cukup mudah untuk diakses, mudah dipelajari dan mudah digunakan untuk media pembelajaran, yaitu melalui media sosial.

Di Indonesia, whatsapp, facebook dan instagram merupakan 3 aplikasi yang paling banyak di download pada apps store (we are social, 2020). Oleh karenanya, para pendidik menyukai platform ini untuk saling berinteraksi dengan para siswa. Wall facebook, facebook group dan facebook note merupakan salah satu fitur yang popular untuk sharing materi dan saling berinteraksi antara guru dan siswa.

Instagram sebagai aplikasi berbagi foto dan video, lebih diminati kaum generasi Z. Menggunakan fitur IG Stories, Feed IG dan IGTV, mendukung kolaborasi siswa dan guru. IG dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa Inggris, antara lain pada ketrampilan writing dengan cara memberikan caption pada sebuah foto, atau dengan mendengarkan native speaker pada sesi listening (Handayani, 2018).

Whatsapp yang sangat populer di kalangan tua dan muda, cukup digemari masyarakat untuk saling berbagi dokumen, voice maupun video. Hal inilah yang mendorong para guru agar dapat berbicara intens dengan siswa-siswanya. Ketut (2020) dalam penelitiannya menyebutkan, treatment terhadap kedua kelompok belajar, dengan tatap muka dan whatsapp ternyata kedua kelompok mengalami tingkat kehadiran sosial yang sama dan pembelajaran yang dirasakan.

Demikian sekilas yang dapat saya sampaikan dalam rangkaian acara pengabdian masyarakat LPPM ITTelkom Purwokerto, Rabu, 29 April 2020. Semoga bermanfaat ya!

Silakan klik link dibawah ini untuk mendapatkan slide presentasi dari saya, terima kasih….

https://www.slideshare.net/kuliahtenia/media-sosial-untuk-pembelajaran

Purwokerto, 1 Mei 2020