“Nggak bisa nyium kirain kena COVID, ternyata bukan siapa-siapa #eh”

Dalam ilmu interaksi manusia dan komputer, aspek manusia dibedakan menjadi 3 bagian penting, yaitu sensors, responders, dan brain. Sensor manusia terdiri dari 5 panca indera, diantaranya indera penciuman. Jika teknologi yang berkembang sudah dapat mengirimkan dan menerima suara yang dapat ditangkap indera pendengaran, serta gambar yang dapat dilihat melalui indera mata, dapatkah kita mengirimkan dan menerima bau?

Penelitian mengenai electronic nose sudah dimulai sejak tahun 1954, sejak Hartman membuat sensor gas pertama. Studi mengenai sensor bau terus berlanjut hingga munculnya array dari 6 termistors, oleh Moncrief (1961), kemudian muncul lah electronic nose pertama, di tahun 1982 oleh Persaud dan Dodd. Penciuman elektronik terus berkembang, dan banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman. Diantaranya untuk mengontrol kualitas produk atau melakukan klasifikasi, seperti pada proses pembuatan kopi, tembakau atau produk lain.

Metode penciuman elektronik yang umum menggunakan metode Fuzzy Learning Vector Quantization (FLVQ) dan metode Quartz Crystal Microbalance (QCM). Metode FLVQ menggunakan jaringan syaraf tiruan berbasis vektor quantization dengan menggabungkan teori fuzzy dengan kemampuan pengenalan aroma. Bagian sistem dibagi menjadi 3, yang masing-masing memiliki fungsi untuk mengubah besaran aroma menjadi besaran listrik, mengukur besaran perubahan frekuensi dan sistem jaringan syaraf tiruan melakukan pengenalan aroma.  Sedangkan metode QCM bekerja dengan memasukkan uap aroma ke ruang sensor, lalu uap tersebut diekstraksi menjadi komponen penyusun uap. Setiap komponen diukur intensitas dan konsentrasinya menggunakan sensor QCM dan untuk menangkap aroma, lapisan zat kimia ditamhankan pada osilator.

Kembali pada pertanyaan diatas, bisakah kita mengirimkan bau? Profesor Harvard David Edwards memperkenalkan produk ke pasar yang memungkinkan orang berbagi dan mengirimkan bau melalui smartphones di tahun 2014. Melalui perusahaan Edwards, Vapor communications, David Edwards mengumumkan peluncuran oPhone DUO dan aplikasi pendampingnya, oSnap. Dengan oSnap, pengguna dapat menandai foto mereka dengan aroma unik, yang kemudian dapat diteruskan dan diterima melalui email, Facebook, dan Twitter di hotspot tertentu di mana terdapat oPhone. OPhone berfungsi sebagai perangkat keras yang memancarkan bau yang dikirim ke pengguna setelah mereka membuka pesan. OPhone sarat dengan apa yang disebut oChips, yang dapat dengan mudah diganti dan bertanggung jawab untuk menghasilkan oNotes — aroma yang sebenarnya.

Pengguna yang mengirim foto dengan aplikasi oSnap dapat memilih di antara 300.000 kombinasi aroma unik saat membagikan gambar mereka, menurut perusahaan. Edwards, yang membangun sistem berbasis aroma dengan bantuan lanjutan mantan mahasiswa Universitas Harvard Rachel Field, mengatakan pengguna dapat menciptakan aroma dengan menggulirkan 32 opsi di aplikasi, dan menambahkan hingga delapan aroma ke dalam campuran. oPhones pertama dijual dengan harga $ 150, cukup sepadan dengan pengalaman pengguna.

Penemuan ini sangat berharga, membuat aroma foto makanan Instagram menjadi jauh lebih realistis. Lebih jauh, penemuan ini dapat digunakan untuk mengirimkan bau aroma yang dijual di toko parfum untuk memberikan gambaran bagi pengguna dalam jual beli online. Bisa juga untuk mengirimkan bau durian, jual beli durian tidak perlu lagi harus datang ke ke penjualnya, bisa dengan mencium aromanya saja dari jauh via smartphones, tinggal pesan, dan kirim. Wow! impressive.

Sumber :

https://www.bostonmagazine.com/news/2014/06/17/ophone-launch-harvard-osnap-app/

1. Don’t make me think – Steve Kurg
2. Usability testing – Jacobs Nielsen
3. 100 Things every designer needs to know about people – Susan M. Weinscheck
4. Sprint how to solve big problems and test new ideas in just five days – Jake Knapp
5. Handbook of usability testing – Jeffrey Rubin and Dana Chisnell
6. Interaction design – Sharp, Rogers, Preece
7. Laws of UX – Jon Yablonski
8. Measuring user experience – Tom Tullis, Bill Albert
9. The design of everyday things – Don Norman
10. Human-Computer Interaction – I. Scott MacKenzie
#tenthings #okesip

 

Prediksi para ilmuwan mengenai hilangnya sejumlah pekerjaan karena digantikan oleh otomatisasi mesin membuat kalangan pekerja merasa khawatir. Lalu, pekerjaan seperti apa yang dapat bertahan, bahkan tidak dapat digantikan oleh robot?
.
Pekerjaan tersebut antara lain adalah pekerjaan yang membutuhkan imajinasi seperti penulis. Robot mungkin bisa saja memproduksi tulisan berdasarkan data saran judul dan pedoman penulisan, tapi orisinalitas hasil karya robot tentu tidak sebaik manusia.
.
Pekerjaan yang membutuhkan kreativitas seperti arsitek, tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Kreativitas manusia tidak terbatas, dan anugerah ini diberikan Tuhan sebagai pemberian yang sangat besar, tidak dapat ditiru oleh mesin.
.
Pekerjaan yang membutuhkan empati, seperti dokter, psikolog, perawat, pengasuh. Banyak program artificial intelligence yang dapat mendeteksi penyakit, tetapi hanya manusia yang dapat mengenali emosi manusia, sehingga bisa melakukan penanganan yang lebih tepat, salah satunya saat dokter harus menyampaikan kabar buruk mengenai penyakit yang diderita pasien.
.
Pekerjaan yang membutuhkan kasih sayang, seperti guru dan dosen. Meskipun teknologi di dunia pendidikan sudah berkembang dan murid bisa mendapatkan materi dari berbagai sumber, namun peran guru tidak dapat digantikan oleh robot. Guru dan dosen sebagai pengajar dalam membimbing dan mendidik murid harus memiliki empati dan kesabaran, agar muridnya dapat memahami pelajaran dengan baik.
.
Jadi, kalau selama ini kita sebagai dosen hanya datang, memberikan materi dan pulang, apalagi cuma ngasih tugas, tidak memberikan arahan dan mengajarkan kasih sayang, siap-siap untuk digantikan robot ya!
Purwokerto, 5 April 2021

Dampak revolusi industri 4.0 di Indonesia antara lain hilangnya sekitar 23 juta pekerjaan, dan secara berangsur-angsur akan digantikan oleh mesin otomatis diperkirakan hingga tahun 2030. Sebagai gantinya, 27-46 juta pekerjaan baru lahir, dan 10 juta diantaranya belum pernah ada, bahkan kita tidak pernah kebayang sebelumnya. Meskipun ada kekhawatiran yang dapat dimengerti tentang apakah akan ada cukup pekerjaan bagi pekerja dengan adanya otomatisasi potensial, sejarah menunjukkan bahwa ketakutan tersebut mungkin tidak berdasar: seiring waktu, pasar tenaga kerja menyesuaikan dengan perubahan permintaan pekerja dari gangguan teknologi.
Dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan investasi yang memadai, terdapat cukup banyak penciptaan lapangan kerja baru secara global untuk mengimbangi dampak otomatisasi. Namun, tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa pekerja memiliki keterampilan dan dukungan yang diperlukan untuk transisi ke pekerjaan baru. Tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi adalah menyiapkan skill dan kompetensi baru, dan setiap perguruan tinggi harus dapat berlari kencang sebelum kehilangan momentum. Bonus demografi 2045 di Indonesia akan sia-sia jika kita tidak cepat merespon keadaan ini. Seperti rumus fisika, dimana momentum=massa x kecepatan, maka siapa yang tidak cepat berubah, dia akan kehilangan momentum, hilang tergerus putaran roda zaman.
Purwokerto, 1 April 2021