Prototipe aplikasi Suicide Risk Idea Identification of Teenager( SERIINA)

Apa kabar hari ini Bunda? Apakah hari-hari Bunda dipenuhi dengan banyak aktivitas? Terutama menemani anak-anak dalam belajar online? Apakah Bunda mengalami rasa jenuh, capek, dan tertekan? Bagaimana pula keadaan putra putri Bunda? Apakah mereka juga mengalami hal yang sama?

Terus terang, pandemi coronavirus 2019 (COVID-19) memiliki efek psikologis dan sosial yang mendalam. Gejala sisa psikologis pandemi pun, mungkin akan bertahan selama berbulan-bulan dan tahun-tahun mendatang. Penelitian menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 dikaitkan dengan perasaan dan peristiwa kesusahan, kecemasan, ketakutan penularan, depresi dan insomnia pada populasi umum dan di antara para profesional perawatan kesehatan. Hal lain yang menjadi persoalan jiwa adalah adanya isolasi sosial, kecemasan, ketakutan penularan, ketidakpastian, stres kronis dan kesulitan ekonomi dapat menyebabkan perkembangan atau eksaserbasi depresi. Kondisi kejiwaan terkait stres termasuk suasana hati dan gangguan penggunaan zat dikaitkan dengan perilaku bunuh diri. Penyintas COVID-19 juga mungkin berisiko tinggi untuk bunuh diri. Krisis COVID-19 dapat meningkatkan angka bunuh diri selama dan setelah pandemi. Konsekuensi kesehatan mental dari krisis COVID-19 termasuk perilaku bunuh diri cenderung hadir dalam waktu lama dan mencapai puncaknya setelah pandemi yang sebenarnya (Sher, 2020). Studi yang dilaporkan secara luas yang memodelkan efek pandemi covid-19 pada tingkat bunuh diri memperkirakan peningkatan mulai dari 1% hingga 145%, sebagian besar mencerminkan variasi dalam asumsi yang mendasari (John et al., 2020).

Di China, pandemi COVID-19 berpengaruh pada lebih dari seperlima kesehatan mental siswa SMP dan SMA. Temuan lain menunjukkan bahwa ketahanan dan koping positif mengarah pada status kesehatan psikologis dan mental yang lebih baik di kalangan siswa (Zhang et al., 2020). Sebaliknya, koping negatif merupakan faktor risiko kesehatan mental. Istilah koping adalah investasi upaya sadar diri, untuk memecahkan masalah pribadi dan interpersonal, untuk mencoba menguasai, meminimalkan atau mentolerir stres dan konflik. Mekanisme koping psikologis biasanya disebut strategi koping atau keterampilan koping. Pencegahan kasus bunuh diri selama krisis COVID-19 wajib ditingkatkan, dan sangat penting untuk mengurangi stres, kecemasan, ketakutan, dan kesepian pada populasi umum. Harus ada kampanye media tradisional dan sosial untuk mempromosikan kesehatan mental dan mengurangi tekanan. Diperlukan penjangkauan secara aktif, terutama bagi orang-orang dengan riwayat gangguan kejiwaan, penyintas COVID-19, dan lansia. Studi penelitian diperlukan tentang bagaimana konsekuensi kesehatan mental dapat dikurangi selama dan setelah pandemi COVID-19.

Bagaimana dengan upaya pencegahan ide bunuh diri pada remaja di Indonesia? Kami mengembangkan prototipe aplikasi SERIINA untuk mendeteksi dini ide bunuh diri pada remaja. Aplikasi ini melibatkan sekolah dan orang tua dalam memantau perkembangan kejiwaan mereka. Aplikasi ini membantu identifikasi awal keadaan jiwa siswa dengan mengisi kuesioner. Siswa dan guru dapat berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai kondisi kejiwaannya, serta dapat melihat rapor kesehatan jiwa melalui menu laporan. Aplikasi ini telah didaftarkan hak ciptanya dengan nomor 000222856. Semoga aplikasi ini dapat bermanfaat dan berkembang di kemudian hari.

Purwokerto, 29 Januari 2021

Sumber :

John, A., Pirkis, J., Gunnell, D., Appleby, L., & Morrissey, J. (2020). Trends in suicide during the covid-19 pandemic. The BMJ, 371(November), 1–2. https://doi.org/10.1136/bmj.m4352

Sher, L. (2020). The impact of the COVID-19 pandemic on suicide rates. QJM : Monthly Journal of the Association of Physicians, 113(10), 707–712. https://doi.org/10.1093/qjmed/hcaa202

Zhang, C., Ye, M., Fu, Y., Yang, M., Luo, F., Yuan, J., & Tao, Q. (2020). The Psychological Impact of the COVID-19 Pandemic on Teenagers in China. Journal of Adolescent Health, 67(6), 747–755. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2020.08.026