Tangisan pertama 2021

Ini foto ayahku waktu masih muda

 

Dia bukan ayah yang sempurna, aku yakin dia punya banyak kekurangan. Tapi bagi keluargaku, dia ayah yang bertanggung jawab. Lihat betapa gagahnya dia waktu muda. Perkara tua nya jadi pikun, pemarah dan lemah, itu karena stroke yang menyerangnya 8 tahun silam. Anak-anak kecil yang sering lewat di depan rumahku, sering menggoda dan meledeknya, dan ibuku langsung membelanya. Anak-anak kecil itu tidak tahu, ayahku dulu seorang lelaki gagah dan garang. Ayahku seorang karateka, sekali pukul, orang bisa patah tulang. Di depan anak-anaknya yang kebanyakan memang perempuan, ayahku sangat concern pada penampilan kami. Dia yang menyuruh rambut kami disisir rapi, memakai bedak, pakai lipstik. Dia suka marah kalau melihat kami, anak perempuannya, pergi-pergi cuma pakai sandal. Baginya itu gak keren, harus pakai sepatu, katanya.

Ayahku seorang tentara berpangkat rendahan. Waktu muda, seringkali keluarga kami dihina dan dilecehkan. Apalagi keluarga besar kami memang banyak anggota TNI, termasuk pakde dan paklik kami. Dulu waktu kami mau berangkat kuliah, banyak orang menyangsikan kami, apakah kami bisa menyelesaikan kuliah kami?. Alhamdulillah semua anaknya, 4 orang sudah menyelesaikan sarjana. Kakakku sarjana ekonomi, aku sarjana komputer, adikku sarjana pendidikan, si bungsu sarjana teknik. Kami sudah bekerja dan kami sudah mandiri, tidak lagi bergantung pada orang tua. Salah satu bentuk balas dendam yang positif.

Ayahku dulu memang jarang ada di rumah, hidupnya banyak ditempat kerja sambilan. Siang jadi tentara, malam jaga di gudang Indomarco. Kurang tidur, rokok, kopi, makan sembarangan, selama bertahun-tahun membuatnya sering mengalami hipertensi. Kelak, hipertensi inilah yang memicu serangan stroke.

Tapi meskipun begitu, ayahku masih bisa jalan sendiri, mandi sendiri, mengerjakan berbagai hal sendiri. Ayahku sejak pensiun dan stroke, selama 8 tahun justru mengisi hari-harinya dengan memperbanyak ibadah. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, kemana saja keluarga kecil kami berwisata. Dia senang diajak jalan-jalan, semangat kalau diajak pergi. Kami mengganti waktu mudanya yang sempit bersama anak-anak, dengan quality time di usia senjanya.

Ini foto terakhir kami, saat aku selesai program doktoral di UGM. Saat hasil fotonya jadi, ayahku sering nunjuk-nunjuk foto ini. Mungkin mau bilang, anakku udah selesai doktor ya. Aku tahu dia bangga, tapi tidak diperlihatkan. Ayahku, dan juga ibuku tidak sempat mengenyam ilmu parenting, tapi yang aku ingat, mereka mengajarkan hidup jujur, sederhana, fokus pada tujuan, prinsip hidup yang kuat. Kami dibesarkan dengan penuh rasa kepercayaan, mereka percaya, kami akan jadi anak yang baik, tanpa harus diatur, tanpa harus begini dan begitu. Kami diberikan kebebasan memilih jalan hidup, memilih pasangan, menentukan karir, memilih sekolah sendiri. Ayahku dan ibuku bukan cerminan keluarga ideal, sesekali mereka bertengkar hanya pada persoalan sepele. Tapi mereka bisa mengatasi itu semua, pernikahan mereka kekal hingga akhir hayat. Ayahku yang tegas, ibuku yang penyabar dan sederhana. Kombinasi yang serasi. Aku bangga pada mereka.

Tanggal 6 Januari saat serangan stroke yang keempat kalinya, ayahku sudah tidak kuat lagi. Allah mengambilnya untuk selama-lamanya. Siap tidak siap, kami harus ikhlas. Kami telah memaafkan semua orang-orang yang menyakiti kami, dan mohon dimaafkan pula kesalahan keluarga kami. Semoga Allah memberikan tempat terbaik disisiNya.

Purwokerto, 17 Januari, 2021, disela-sela hari Minggu yang sibuk