Do we have the same answer?  😀

Jika Anda menjawab pertanyaan diatas dengan : 1. BOOKS, 2. RANDOM, 3. FORK, 4. PANTS, 5. PULSE, 6. SIX, selamat, kita satu server! Mengapa kita bisa menebak kata-kata tersebut dengan mudah? Salah satunya karena adanya “redundansi dalam bahasa“, yang dalam ilmu interaksi manusia dan komputer (IMK), ini merupakan bagian dari faktor manusia.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan redundansi dalam bahasa, kita akan membahas lebih dulu tentang bahasa. Bahasakemampuan mental yang memungkinkan manusia berkomunikasi — tersedia secara universal untuk hampir semua manusia. Hebatnya, bahasa sebagai ucapan tersedia tanpa usaha. Anak-anak belajar berbicara dan memahami pembicaraan tanpa usaha sadar saat mereka tumbuh dan berkembang. Menulis, sebagai kodifikasi bahasa, adalah fenomena yang jauh lebih baru. Belajar menulis menuntut usaha, dan itu bisa jadi sebuah usaha yang besar, yang meliputi berapa tahun manusia belajar dan kemudian menerapkannya secara praktik. Daniels dan Bright membedakan bahasa dan tulisan sebagai berikut: “Umat manusia ditentukan oleh bahasa; tapi peradaban ditentukan oleh tulisan. ” (Daniels dan Bright, 1996, hlm. 1). Kata-kata Daniels dan Bright menjadi pengingat bahwa status budaya dan teknologi yang terkait dengan peradaban dimungkinkan oleh sistem penulisan. Memang, istilah prasejarah, sebagaimana diterapkan pada manusia, berawal dari kedatangan makhluk mirip manusia (*kita menyebutnya manusia purba), jutaan tahun yang lalu, hingga munculnya tulisan. Tulisan itulah yang menjadi pertanda sejarah yang tercatat, dimulai hanya enam ribu tahun yang lalu.

Di IMK, minat para ilmuwan pada bahasa diutamakan pada sistem penulisan dan teknologi yang memungkinkan komunikasi dalam bentuk tertulis. Teks adalah materi tertulis pada halaman atau tampilan. Bagaimana cara mendapatkan topik yang menarik dan menantang para peneliti IMK, serta para insinyur dan desainer yang membuat produk yang mendukung pembuatan teks, atau entri teks. Meskipun entri teks sangat penting dalam IMK, minat para ilmuwan terhadap bahasa dalam bentuk tertulis.

Redundansi dalam bahasa 

Sebuah percobaan terhadap native speaker (penutur asli) dapat dengan segera mengisi kata, frasa dan huruf yang sengaja di hilangkan. Pada gambar bagian (a) di bawah, 71 huruf vokal dihilangkan, yang berarti teks telah disingkat sekitar 29%. Banyak kata yang mudah ditebak pada percobaan teks ini (mis., Smmr → summer, thrgh → through) dan dengan sedikit usaha inti teksnya dapat terlihat jelas. Kata lain yaitu,  summer [smmr], garden [grdn], dan scent [scnt]. Bagian (b) serupa dengan percobaan pertama, tapi huruf pertama dari setiap kata dibiarkan utuh, dan 62 vokal dihilangkan, sehingga kalimatnya menjadi sedikit lebih mudah untuk diuraikan dibandingkan yang (a).

Contoh lain, pada percobaan diatas, ada sebagian teks dihilangkan, namun kata-kata tersebut tetap dapat dipahami. Pesan teks SMS adalah contoh yang terdokumentasi dengan baik. Selain menghapus karakter, pengodean ulang sering digunakan. Ada banyak teknik yang digunakan, seperti menggunakan suara (th@s→that’s, gr8→great) atau menggunakan akronim (w→with, gf→girlfriend, x→times) atau  (Grinter dan Eldridge, 2003).

Pada zaman kita masih menggunakan SMS (Short Message Service) atau Telegram, jumlah karakter sangat penting, sehingga seringkali kita menyingkat kata, seperti “yang” menjadi yg, juga menjadi “jg”, “maaf baru bales” menjadi “mbb”, “aku dan kamu” menjadi “kita” (*eh, nggak bercanda ini mah…, bercandaaaaaa 😀 ).

Anyway, sayangnya, ada sisi yang lebih berbahaya dari redundansi dalam teks tertulis. Kesalahan umum dalam menulis adalah adanya kata-kata yang tidak berguna, dengan penghapusan kata-kata tersebut dipromosikan di banyak buku tentang gaya penulisan. Strunk dan White menyebutkan untuk menghilangkan kata-kata yang tidak perlu, dan menyarankan untuk mengurangi, misalnya, “he is a man who” menjadi “he,” atau “this is a subject that” menjadi “this subject” (Strunk and White, 2000, hlm. 23). So, jangan sembarangan menyingkat kalimat atau kata ya!, bisa jadi nanti salah persepsi atau salah paham bagi penerima pesan. Oke deh, sekian penjelasan saya mengenai redundansi dalam bahasa, terima kasih….

Purwokerto, 29 Oktober 2020

Dirangkum dari buku Human-Computer Interaction An Empirical Research Perspective karangan I. Scott MacKenzie

Daftar Mahasiswa Bimbingan Skripsi smt ganjil 2020/2021, dengan pembimbing utama Dr. Tenia Wahyuningrum, M.T

NO PRODI NIM NAMA
1 RPL 17104018 Yudi Zidane Rahman
2 RPL 17104033 Sindhu Purnama Santoso
3 RPL 17104015 Rizky Maulana
5 RPL 17104028 Morleedia Adi Yahya
6 RPL 17104029 Muhammad amien sidiq
7 IF 16102156 Fadel Muhammad Luluan
8 IF 16102186 Ardiansyah Hermas Kahfinudin
9 IF 17102095 Ulung Priyo Bintoro
10 IF 17102109 Meliana Dewi
11 IF 17102110 Mochammad Iqbal Fatria
12 IF 17102116 Rut Elisabeth Aprilianti
13 IF 17102131 Khofifah Putriyani
14 IF 17102190 Thowaf Fuad Hasan
15 IF 16102013 Fajar Abdurrahman
16 SI 17103030 Florencia Irena Hendyantoro
17 SI 17103013 Maruli Naibaho
18 SI 17103062 Veronica Anggie Meida Eka Pratiwi

Saya suka mempelajari hal-hal baru. UI/UX merupakan ilmu yang saya tekuni dalam beberapa tahun terakhir, dan saya menyukainya. Perpaduan unik antara unsur teknologi, seni, psikologi dan beberapa ilmu lain membuat ilmu ini cukup “kaya”. Oleh karena itu, saya tidak pernah kelewatan untuk mengikuti pertemuan bulanan yang rutin diselenggarakan UX Research and Strategy, Texas. Monthly meeting kali ini diselenggarakan pada hari Jumat, 16 Oktober 2020 pukul 05.00 WIB. Materi yang disampaikan adalah memilih metode penelitian UI/UX oleh Meghan Rennie. Sekitar 300-an partisipan datang dari penjuru dunia, dan antusias mendengarkan penjelasan Meghan. Kami juga berdiskusi dan saling memberikan pendapat melalui kolom chat. Yang saya sukai dari pertemuan ini, diantaranya, saya bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat sama, kami menyebut sebagai komunitas UX enthusiasts.

Zoom meeting, Jumat pagi kami

Pada pertemuan kali ini, kami membahas pemilihan metode penelitian yang dianggap sebagai bagian dari rangkaian proses rancangan penelitian. Konteks peneliitan dan batasan yang dimiliki akan mempengaruhi kesuksesan dan pemilihan pendekatan penelitian. Para peneliti diharapkan untuk dapat mengenali audiens dan memahami ruang lingkup permasalahan. Batasan penelitian dapat berupa uang, waktu, asumsi, kebutuhan artefak yang diingingkan, peralatan, sensitifitas topik atau perhatian khusus mengenai privasi atau sesuatu yang berkaitan dengan etika dan hukum.

Meghan membagi perancangan framework menjadi empat kuadran, yang disebut “design thinking wayfinder” yang terdiri dari kuadran 1:  find a need, kuadran 2: build empathy, kuadran 3: , make to learn, kuadran 4: explore ideas. Fokus utamanya adalah menjawab pertanyaan apa tujuan saya? Apa yang harus saya lakukan? Ada dua cara menjawab pertanyaan ini, yaitu,

Build the Right thing : more unknown about your users than knowns

  • During flaring: Observation, field studies, contextual inquiry, interviews, competitive analysis
  • During focusing: Co-creation/ideation, desirability testing, survey, secondary research

Build the thing right : more unknowns about your solution than khowns

  • During flaring: Concept validation, think aloud, tree testing, card sorting
  • During focusing: Expert or heuristic evaluation, usability testing, content testing, A/B Testing

Pada dasarnya, pemilihan metode penelitian UX tergantung dari kebutuhan peneliti dan pengguna, keterbatasan yang ada, serta luaran yang diharapkan. Akan tetapi, pada intinya, dalam upaya memberikan pelayanan pada pelanggan, kita pasti ingin mengirimkan data yang valid, dapat dipercaya, menyiratkan tindakan, tahan lama, mudah diingat.

Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi pada pertemuan ini, silakan klik link ini.

 

Purwokerto, 19 Oktober 2020