“good fortune is what happens when opportunity meets with planning”

~Thomas Edison~

Kemarin pagi, saya menemukan buku-buku tulis semasa kuliah S3. Saya buka satu-satu lembarannya, dan seketika itu juga saya merasakan nostalgia. Waktu itu tidak pernah terpikir bagaimana bisa saya menyelesaikan semua prosesnya dengan cepat, saya hanya mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan saja. Banyak orang terjebak pada pikirannya sendiri, kuliah S3 itu sulit, dosen-dosennya perfeksionis, novelty yang tidak kunjung ditemukan, paper-paper yang tidak segera di accept oleh jurnal, belum lagi masalah ekonomi, anak-anak yang sering “terabaikan”, dll. Lalu belakangan saya mulai bisa merasakan apa yang dikatakan Thomas Edison benar, sebuah keberuntungan berasal dari kekuatan mimpi, terbukanya kesempatan, kebaikan rencana, dan keajaiban Tuhan.

Well Planned

Mimpi kuliah S3 telah membuat saya jadi sering “kepo” mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Saya sering bertanya-tanya pada senior (*dan juga tanya pada google pastinya) seperti apa sih kuliah S3, bagaimana cara mendaftar, universitas apa yang terbaik, beasiswa apa yang bisa saya ambil, sehingga, dari hasil tersebut, saya punya data base wawasan dan gambaran mengenai studi S3. Btw, saya kuliah S3 pada tahun 2016, tapi sudah sejak 2014, saya mulai mencari-cari informasi. Tahun 2015 saya belajar bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan bahasa, untuk persiapan TOEFL, sebagai syarat S3.

Setelah diterima menjadi mahasiswa, saya sempat down di semester-semester awal. Bayangan saya tentang kuliah yang menyenangkan, sirna sudah. Kuliah bagi saya seperti neraka, tidak ada semangat yang dulu menggebu-gebu di dalamnya. Saya berada dalam ketakutan luar biasa, saya takut tidak lulus mata kuliah. Saya takut mengulang. Saya takut tidak bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Ketakutan-ketakutan itu muncul karena saya terlalu banyak mendengar cerita menyeramkan tentang dosen-dosen saya (dosen-dosen perfeksionis, killer, nilai pelit, dst), tentang kuliah di tempat saya (jurusan yang sulit, mustahil lulus 3 tahun), dst. Saya merasa sendirian, dan saya paling tidak suka merasakan penderitaan ini sendiri. Suatu hari saya sedang duduk di ruang tunggu, di sebelah saya ada kakak senior, namanya Pak Guruh Fajar Sidik, dosen UDINUS. Saya cuma ketemu dia sekali saja. Kami sama-sama sedang menunggu dosen saya. Dia katakan, “mbak, saya lulus 3 tahun, kamu juga bisa, jangan pulang sebelum selesai mengerjakan tugas, fokus, dan semangat”.  Melihat ada sosok kakak kelas yang bisa lulus dengan cepat (meskipun disini jarang yang bisa lulus cepat, pak Guruh termasuk yang outstanding sih), saya jadi semangat lagi. Jadi, kemarin-kemarin saya down sampai masuk rumah sakit itu, karena saya sibuk dengan pikiran buruk saya sendiri. Saya kebanyakan mendengar cerita gagal daripada cerita sukses, hahaha.

Saya mulai mengatur rencana. Rencana saya begini, kalau mau lulus 3 tahun, disertasimu harus selesai dalam waktu 2,5 tahun, termasuk paper yang dijadikan syarat publikasi harus selesai juga. Sisakan 1 semester sebagai cadangan, karena saat masuk proses penilaian, kelayakan, dan menunggu ujian disertasi itu bisa makan waktu berbulan-bulan (ini tergantung dari kesiapan tim penilai disertasi kita, dan itu diluar kewenangan kita).

Jadi setiap hari saya akan menuliskan to do list, supaya saya tidak sia-sia sudah meninggalkan anak dan suami ke Jogja untuk kuliah, kalau disana saya nggak ngapa-ngapain, rugi. Kata orang, an hour of planning can save you 10 hours of doing. Meja kerja saya desain sedemikian rupa, sehingga saya jadi lebih semangat. Meja kerja saya paling heboh dan ramai dibanding yang lain. Saya siapkan pernak pernik tulis menulis dengan lengkap, minuman, makanan, biar saya bisa semangat kerja. Biarin saya dikatain alay, luweh, hahaha.

Saya mulai menjadi diri saya sendiri, saya mulai bergaul dengan teman-teman yang baik, saya menciptakan sendiri kebahagiaan saya, buat positive vibes, saya mulai bangkit. Meskipun nilai-nilai saya tidak sempurna, saya melaju terus, pelan, tapi pasti.

Saya menulis setiap hasil eksperimen, kata-kata sulit, resume jurnal ke dalam buku tulis dan blog, saya tahu saya orangnya pelupa, jadi saya harus rajin menulis. Saya bergaul dengan banyak orang, supaya saya punya banyak pandangan dalam menyikapi hidup ini, terutama saat studi S3. Saya ikut banyak acara workshop, pelatihan, seminar gratisan, olahraga di kampus. Berkenalan dengan teman-teman sesama pejuang disertasi dari berbagai jurusan dan fakultas. Supaya saya tidak merasa sendiri, dan banyak bersyukur. Play hard, work hard. Di sela-sela kuliah, saya juga nge mall, nonton, hangout, dengan proporsi waktu tertentu. Jangan biarkan kita terjebak dalam rutinitas membosankan yang bikin pikiran juga nanti ikut mandeg. Saat “relax time”, jangan pikirkan disertasi, santai saja, nikmati apa yang ada di hadapan kita.

 

Keajaiban Tuhan

Kata-kata usaha tidak menghianati hasil tentu memang benar. Saya meyakinkan diri, bahwa Tuhan melihat apa yang kita usahakan. Jangan meremehkan kekuatan doa kita, suami, ayah, ibu, keluarga, teman, pengamen, tukang ojek, tukang becak, tukang koran, tukang sampah, orang yang tidak kita kenal yang pernah kita tolong. Merekalah yang membantu saya mengkomunikasikan pada Tuhan untuk membukakan saya mendapatkan novelty, melalui proses bertanya dan belajar dari dosen dan teman-teman saya (*ternyata dosen-dosen saya tidak se killer itu pemirsaaaa, mereka baik kok), doa mereka juga menolong saya saat jurnal saya tidak kunjung terbit, meskipun sudah ada LOA (*sad), dan karena doa mereka pula saya bisa menjadi seperti ini.

Dream and make it happen!

Purwokerto, 23 September 2020

“life has no remote, get up and change it yourself”

 

Beberapa waktu yang lalu, UX research and strategy kembali membuat webinar yang menarik. Kali ini temanya tentang contextual inquiry, going remote with an in-person technique. Webinar ini disampaikan oleh Deb Gelman dari Experience Design.

Apa itu contextual inquiry?

Contextual inquiry merupakan metode penelitian etnografi untuk memahami perilaku, kebutuhan, dan harapan pengguna, dilakukan dengan mengamati pengguna saat menyelesaikan tugas di lingkungan mereka sendiri. Contextual inquiry penting dilakukan karena apa yang pengguna lakukan dan pengguna katakan seringkali sangat berbeda. Apa yang pengguna butuhkan dan pengguna katakan juga seringkali berbeda jauh. Satu-satunya jalan untuk memahami kebutuhan pengguna, yang dilakukan pengguna dan harapan pengguna adalah dengan mengamati mereka pada habitat alaminya, mengerjakan apa yang dilakukan sehari-hari, untuk membatu kita membuat persona, mengartikulasikan perjalanan pengguna dan solusi rancangan yang bermakna bagi pengguna dan masalah bisnis.

 

Ada 3 aktivitas penting dalam contextual inquiry, yaitu observe (amati), ask (tanya), dan capture (tangkap). Lalu bagaimana ketika kita melakukan semua ini secara remote? Berikut beberapa tipsnya :

Break it up

Bagilah beberapa aktivitas menjadi beberapa sesi, observe: saat kita melihat partisipan menyelesaikan tugas, tanya: kerjakan interview terpisah sebelum dan sesudah observasi, dokumen: mintalah partisipan untuk mengambil foto/merekam diri sendiri saat menyelesaikan tugas.

Use technologies

Gunakan beberapa perangkat dan aplikasi yang mendukung pengamatan.

Narrow your focus

Fokus pada aliran per partisipan, per sesi. Hal ini akan memberikan waktu untuk memastikan teknologi telah bekerja dengan baik, membuat partisipan nyaman, dan kita bisa menyelami lebih dalam.

Play with your tools

Gunakan penelitian diary studies, dan in-depth interviews dibandingkan hanya mengandalkan observasi real-time. Cara ini dapat meng-cover semua hal yang mungkin akan terlewat.

Self reflect

Saat melakukan remote contextual research, kita tidak menyatu dengan partisipan secara fisik. Cobalah untuk menghilangkan diri kita supaya partisipan tidak terganggu. Tempatkan diri kita di ruang fisik kita sendiri, perhatikan dunia di sekitar, dokumentasikan setiap bias, kesan, atau refleksi yang mungkin kita miliki, tindak lanjut sesuai kebutuhan, bersikap baik kepada diri sendiri.

Presentasi Deb Gelman dapat diakses melalui link ini .

Purwokerto, 20 September 2020

Tenia Wahyuningrum