Brain Perception (Human Factor)

Fill your brain with giant dreams so it has no spaces for pretty pursuits

Faktor manusia pada interaksi manusia dan komputer menghadirkan tiga bagian, yaitu sensors, responders dan otak. Otak sebagai pemroses informasi merupakan bagian paling kompleks dari struktur biologi manusia. Jutaan neurons yang terdapat didalamnya memungkinkan manusia untuk berfikir, mengingat, memanggil kembali ingatam merasa, memilih ataupun komunikasi. Otak telah menjembatani sensor manusia (sebagai input) dan responders (sebagai output). *kita akan bahas mengenai sensor dan responders lain kali ya! 😀

Sejak abad 19, persepsi otak menjadi kajian khusus pada area psikologi eksperimental yang disebut dengan psycophysics. Psycophysics mempelajari tentang hubungan antara persepsi manusia dan fenomena fisik. Salah satu contoh dari persepsi manusia adalah ambiguitas, yaitu kemampuan manusia untuk mengembangkan berbagai interpretasi masukan dari indera. Gambar dibawah ini merupakan demonstrasi ambiguitas manusia pada indra penglihatan. Gambar (a) menunjukkan kubus gambar rangka Necker. Apakah sudut kanan atas ada pada permukaan depan atau permukaan belakang? Gambar (b) menunjukkan vas Rubin. Bagaimana kita melihatnya? apakah gambar vas atau gambar dua wajah? Fakta bahwa kita merasakan ambiguitas dalam gambar-gambar ini mengungkapkan kemampuan perseptual kita untuk melampaui informasi yang diberikan.

Ambiguous images: (a) Necker cube. (b) Rubin vase.

Terkait dengan ambiguitas sebagai ilusi, ada sebuah contoh “penipuan akal sehat” :D. Perhatikan gambar garis dibawah ini. Gambar (a) menunjukkan garis Ponzo. Dua garis hitam itu sebenarnya memiliki panjang yang sama; namun, garis hitam di dekat bagian bawah ilustrasi tampak lebih pendek karena perspektif tiga dimensi. Panah Müller-Lyer ditunjukkan pada Gambar (b). Dalam membandingkan segmen garis lurus di dua panah, yang ada di panah atas tampak lebih panjang padahal keduanya memiliki panjang yang sama. Intuisi kita telah “mengkhianati” kita :(.

Visual illusion: (a) Ponzo lines. (b) Muler-Lyer arrows.

Selain ilusi mata, ada pula ilusi suara. Shepard Tone merupakan salah satu ilusi yang memberikan efek suara sebagai intensitas ketegangan yang terdengar seperti selalu meningkat tanpa henti. Padahal sebenarnya suara dan musik yang kita dengar tidak terus meninggi, karena kalau nadanya meninggi terus maka kita tidak akan dapat mendengar nada itu lagi. Hal itulah yang disebut dengan ilusi Shepard Tone, di mana sebenarnya ada 3 alunan nada yang diputar secara berbarengan. Setiap nadanya terpaut 1 oktaf, di mana nada tinggi mengalun tapi dengan volume suara yang semakin samar, lalu nada kedua yang normal mengalun dengan volume suara yang konstan, dan nada ketiga yang lebih rendah mengalun dengan volume suara yang makin kencang. Hasilnya adalah otak kita akan tertipu dan hanya bisa mendengar 2 nada secara bersamaan, sehingga yang kita dengar seolah-olah seperti nada mengalun semakin tinggi dan tinggi tanpa akhir.

 

Auditory illusion. A collection of equally spaced sine waves rise in frequency.

The human hears a tone that rises but stays the same.

Ingin mendengakan seperti apa Shepard tone? silakan klik link ini ya….

https://www.youtube.com/watch?v=BzNzgsAE4F0

Demikian penjelasan mengenai brain perception, semoga bermanfaat ya…

Purwokerto, 15 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *