“Media sosial”

Tahun 2019, statistik pengguna media sosial di dunia telah mencapai sekitar 3,5 milyar (Ermasys, 2019), dengan rata-rata menghabiskan waktu sekitar 3 jam perhari untuk mengaksesnya (Globalwebindex, 2019). Media sosial tidak hanya disukai kaum milenial (90,4%), tapi juga oleh generasi baby boomer dan generasi X (Emarketer, 2019). Oleh karena itu, penggunaan media sosial seharusnya telah menjadi hal yang biasa di kalangan pengguna internet, dan seharusnya dapat ditingkatkan pemanfaatannya, terutama untuk edukasi (pendidikan). Seiring dengan dampak pandemi covid-19, dimana setiap orang di dunia ini harus bekerja dari rumah, dan sekolah dari rumah, maka, kami menawarkan suatu hal yang cukup mudah untuk diakses, mudah dipelajari dan mudah digunakan untuk media pembelajaran, yaitu melalui media sosial.

Di Indonesia, whatsapp, facebook dan instagram merupakan 3 aplikasi yang paling banyak di download pada apps store (we are social, 2020). Oleh karenanya, para pendidik menyukai platform ini untuk saling berinteraksi dengan para siswa. Wall facebook, facebook group dan facebook note merupakan salah satu fitur yang popular untuk sharing materi dan saling berinteraksi antara guru dan siswa.

Instagram sebagai aplikasi berbagi foto dan video, lebih diminati kaum generasi Z. Menggunakan fitur IG Stories, Feed IG dan IGTV, mendukung kolaborasi siswa dan guru. IG dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa Inggris, antara lain pada ketrampilan writing dengan cara memberikan caption pada sebuah foto, atau dengan mendengarkan native speaker pada sesi listening (Handayani, 2018).

Whatsapp yang sangat populer di kalangan tua dan muda, cukup digemari masyarakat untuk saling berbagi dokumen, voice maupun video. Hal inilah yang mendorong para guru agar dapat berbicara intens dengan siswa-siswanya. Ketut (2020) dalam penelitiannya menyebutkan, treatment terhadap kedua kelompok belajar, dengan tatap muka dan whatsapp ternyata kedua kelompok mengalami tingkat kehadiran sosial yang sama dan pembelajaran yang dirasakan.

Demikian sekilas yang dapat saya sampaikan dalam rangkaian acara pengabdian masyarakat LPPM ITTelkom Purwokerto, Rabu, 29 April 2020. Semoga bermanfaat ya!

Silakan klik link dibawah ini untuk mendapatkan slide presentasi dari saya, terima kasih….

https://www.slideshare.net/kuliahtenia/media-sosial-untuk-pembelajaran

Purwokerto, 1 Mei 2020

Untuk mengetahui perbedaan antara short term memory dan long term memory, mari kita melakukan percobaan kecil ini.

Perhatikan kata-kata berikut

Rindu     Damai    Cerdas
Beruntung    Benci    Kurang
Cinta    Pandai    Keras
Lemah    Halus    Pintar
Bodoh    Lembut    Cekatan
Ceria    Perang    Kompromi

Tutup mata Anda, dan bayangkan kata-kata tersebut, berapa jumlah kata yang bisa Anda ingat? 5? 6? 7? Kata-kata apa yang paling Anda ingat? Rindu? Pintar? Kompromi? Cerdas?

Faktanya,

  • Rata-rata manusia hanya mampu mengingat 5-7 item (baca https://tenia.dosen.ittelkom-pwt.ac.id/2020/04/18/human-memory/) untuk penjelasannya,
  • Terjadi pada beberapa detik sampai satu menit,
  • Rata-rata manusia mengingat mulai dari kiri ke kanan, atas ke bawah,
  • Sesuatu yang telah diberi tanda akan lebih mudah diingat dari pada yang lain.

Short Term Memory adalah sebuah sistem di otak kita yang berfungsi untuk menyimpan sementara informasi dan memproses informasi yang diperlukan saat kita berpikir (seperti saat kita mencoba menyeleksi atau mengelompokkan informasi yang kita terima, saat kita mencoba mengerti hal baru, melogika sesuatu, menganalisis hubungan sebab-akibat, mencari alasan atau argumentasi).

Mari kita coba lagi percobaan kecil di bawah ini, 

Kalikanlah

6 x 7 = ? (Anda pasti langsung bisa menebak jawabannya)

3 x 6 = ? (Yang ini juga pasti sudah tahu jawabannya)

57 x 3 = ? (Ini butuh waktu agak lama untuk mendapatkan hasilnya)

Bagaimana anda mengalikannya? Apakah anda betul2 mengalikannya? Atau anda melakukan recalling pada knowledge anda? Mengapa 6 x 7 jawabannya mudah didapat?

Ternyata, saat kita diberi pertanyaan 6 x 7, jawabannya sudah ada di dalam otak kita, sebab pengetahuan itu telah kita dapatkan, dan seringkali digunakan, sehingga otak tinggal melakukan recalling pada knowledge manusia. Itulah yang disebut long term memory.

Long term memory adalah sebuah sistem di otak kita yang berfungsi untuk menyimpan secara permanen, mengatur, dan memanggil kembali informasi-informasi diwaktu berikutnya. Seringkali informasi yang disimpan di long-term memory akan dapat kita ingat sepanjang hidup.

Purwokerto, 18 April 2020

Tampilan gojek

Pernahkah kalian kepikiran, kenapa jumlah menu layanan yg ditampilkan di aplikasi gojek atau grab kok ada 7? Kenapa gak 3 atau 15 gaes?

Saya selalu mengamati, mengapa jumlah menu di website atau aplikasi android berkisar antara 7-9 buah. Lalu muncul pertanyaan kenapa segitu sih? Usut punya usut, ternyata, kemampuan otak manusia untuk mengingat jangka pendek maksimal hanya 9 item saja. (*akhirnya sampailah saya sampai baca jurnal² psikologi untuk menemukan jawabannya).

Edmund T. Rolls, dkk (2013) dalam jurnal plosone berjudul “Holding multiple items in short term memory” mengungkapkan bahwa memori jangka pendek manusia memiliki kapasitas bbrp item yg dipelihara secara bersamaan. Dalam penelitian tsb juga mengungkapkan manusia pada umumnya hanya dapat mempertahankan 9 ingatan jangka pendek yang aktif secara simultan.
Oleh karenanya, jumlah menu yg dianggap penting untuk ditampilkan di halaman utama pada umumnya berkisar antara +- 9. Angka 7 merupakan angka ideal untuk menentukan pilihan item yang paling penting atau sering digunakan.

Jauh sebelum Edmund T. Rolls, penelitian tentang memory sudah dilakukan oleh G. A. Miller, (1956) yang menulis essay berjudul “The Magic Number Seven, Plus or Minus Two: Some Limits on our Capacity for Processing Information”. Miller memperluas karya ini ke ingatan manusia, menggambarkan sebuah eksperimen di mana para peserta disajikan dengan urutan item dan kemudian diminta untuk mengingatnya. Dia menemukan bahwa kemampuan manusia dengan tugas-tugas tersebut, sama, sekitar tujuh item (± 2). Sebuah demonstrasi sederhana dari tesis Miller ditunjukkan pada Gambar.

Results of a test of short-term memory.

Untuk “percobaan mini” ini, lembar log dibagikan kepada siswa di kelas tentang interaksi komputer manusia (n ~ 60). Instruktur menentukan urutan angka acak, dengan urutan panjang bervariasi dari empat digit hingga 13 digit. Setelah setiap dikte, siswa menyalin urutan dari memori jangka pendek ke lembar log. Persentase respons yang benar berdasarkan panjang urutan ditampilkan dalam gambar. Pada akhirnya tujuh jumlah tanggapan yang benar adalah sekitar 50 persen. Panjangnya lima dan sembilan nilainya masing-masing sekitar 90 persen dan 20 persen.

Purwokerto, 18 April 2020

Fill your brain with giant dreams so it has no spaces for pretty pursuits

Faktor manusia pada interaksi manusia dan komputer menghadirkan tiga bagian, yaitu sensors, responders dan otak. Otak sebagai pemroses informasi merupakan bagian paling kompleks dari struktur biologi manusia. Jutaan neurons yang terdapat didalamnya memungkinkan manusia untuk berfikir, mengingat, memanggil kembali ingatam merasa, memilih ataupun komunikasi. Otak telah menjembatani sensor manusia (sebagai input) dan responders (sebagai output). *kita akan bahas mengenai sensor dan responders lain kali ya! 😀

Sejak abad 19, persepsi otak menjadi kajian khusus pada area psikologi eksperimental yang disebut dengan psycophysics. Psycophysics mempelajari tentang hubungan antara persepsi manusia dan fenomena fisik. Salah satu contoh dari persepsi manusia adalah ambiguitas, yaitu kemampuan manusia untuk mengembangkan berbagai interpretasi masukan dari indera. Gambar dibawah ini merupakan demonstrasi ambiguitas manusia pada indra penglihatan. Gambar (a) menunjukkan kubus gambar rangka Necker. Apakah sudut kanan atas ada pada permukaan depan atau permukaan belakang? Gambar (b) menunjukkan vas Rubin. Bagaimana kita melihatnya? apakah gambar vas atau gambar dua wajah? Fakta bahwa kita merasakan ambiguitas dalam gambar-gambar ini mengungkapkan kemampuan perseptual kita untuk melampaui informasi yang diberikan.

Ambiguous images: (a) Necker cube. (b) Rubin vase.

Terkait dengan ambiguitas sebagai ilusi, ada sebuah contoh “penipuan akal sehat” :D. Perhatikan gambar garis dibawah ini. Gambar (a) menunjukkan garis Ponzo. Dua garis hitam itu sebenarnya memiliki panjang yang sama; namun, garis hitam di dekat bagian bawah ilustrasi tampak lebih pendek karena perspektif tiga dimensi. Panah Müller-Lyer ditunjukkan pada Gambar (b). Dalam membandingkan segmen garis lurus di dua panah, yang ada di panah atas tampak lebih panjang padahal keduanya memiliki panjang yang sama. Intuisi kita telah “mengkhianati” kita :(.

Visual illusion: (a) Ponzo lines. (b) Muler-Lyer arrows.

Selain ilusi mata, ada pula ilusi suara. Shepard Tone merupakan salah satu ilusi yang memberikan efek suara sebagai intensitas ketegangan yang terdengar seperti selalu meningkat tanpa henti. Padahal sebenarnya suara dan musik yang kita dengar tidak terus meninggi, karena kalau nadanya meninggi terus maka kita tidak akan dapat mendengar nada itu lagi. Hal itulah yang disebut dengan ilusi Shepard Tone, di mana sebenarnya ada 3 alunan nada yang diputar secara berbarengan. Setiap nadanya terpaut 1 oktaf, di mana nada tinggi mengalun tapi dengan volume suara yang semakin samar, lalu nada kedua yang normal mengalun dengan volume suara yang konstan, dan nada ketiga yang lebih rendah mengalun dengan volume suara yang makin kencang. Hasilnya adalah otak kita akan tertipu dan hanya bisa mendengar 2 nada secara bersamaan, sehingga yang kita dengar seolah-olah seperti nada mengalun semakin tinggi dan tinggi tanpa akhir.

 

Auditory illusion. A collection of equally spaced sine waves rise in frequency.

The human hears a tone that rises but stays the same.

Ingin mendengakan seperti apa Shepard tone? silakan klik link ini ya….

https://www.youtube.com/watch?v=BzNzgsAE4F0

Demikian penjelasan mengenai brain perception, semoga bermanfaat ya…

Purwokerto, 15 April 2020