Don’t make me think!

 

“Jangan buat saya berpikir (lebih)!” kira2 begitu terjemahan judul buku ini. Sebuah buku berjumlah 200 halaman yang mengupas usability web dengan pendekatan common sense. Buku yang ringan dibaca, mudah dipahami, dan bagus untuk pengetahuan para developer dan desainer dalam membangun user interface sebuah web. The first law dari usability menurut Steve Krug adalah :

Don’t make me think!

Pada dasarnya, desain yang baik adalah desain yang membuat user tidak terlalu banyak “mikir”. Jangan buat mereka berpikir terlalu lama pada sebuah tampilan web yang membingungkan. Sebagai gambaran, perhatikan ilustrasi berikut.

 

not thinking

Ketika user menghadapi sebuah halaman web yang tidak perlu “mikir”, maka semua pertanyaan yang berkecamuk di kepala kita akan terjawab langsung. Dan, otak kita akan berkata seperti “oh, oke, ini tombol X”, atau “hmmm…, ini menarik untuk saya” atau “inilah yang saya cari”.

thinking

Hal yang berbeda ketika user bertemu pada web page yang membuat mereka agak “berpikir”, maka seluruh pertanyaan dalam otak kita akan berseliweran menuntut jawaban. Tugas para desainer adalah membersihkan “question mark” user.

button choice

Perhatikan button choice diatas! semakin ke kiri, tombol “result” semakin dipahami user. Desainer memilih ¬†button berbentuk persegi panjang dengan efek 3D yang merepresentasikan sebuah tombol di dunia nyata. Pilihan tombol dengan bentuk persegi panjang saja akan membuat user agak berpikir “apakah ini tombol?” karena bentuknya yang flat. Pilihan text dengan panah agak membingungkan user, karena bisa jadi mereka berpikir ini bukanlah tombol. Saran : untuk memudahkan user, ubahlah kursor berbentuk panah menjadi bentuk tangan jika telah berada pada area tombol yang akan di “klik”.

Contoh lain : saat kita berkunjung ke sebuah situs jual beli buku seperti berikut ini, maka user akan dipaksa untuk berpikir lebih saat akan menggunakannya.

most bookstore sites (web A)

Perhatikan bagaimana desainer web menyusun sebuah tombol, text box, combo box dan caption! ini cukup membingungkan user pemula. Apa bedanya “quick search” dengan “search”? “apakah user harus memilih drop down menu dulu atau menulis keyword yang akan dicari?” dan sebagainya. Nah, untuk contoh toko buku online, toko buku online terbesar¬†amazon cukup cerdas dalam membuat desain!

amazon.com (web B)

Amazon meletakkan drop down menu diatas text box. Mengapa? karena secara naluriah, manusia melakukan pencarian dari atas ke bawah, dari kanan ke kiri. Dengan demikian, sesuatu yang sifatnya “lebih penting” akan diletakkan paling kanan atau paling atas. Perhatikan pada desain web A, peletakkan combo box di sebelah kiri, itu artinya user akan “mengesampingkan” tombol ini, karena dianggap kurang penting. Bisa jadi, user akan menuliskan keyword pada text box, tanpa melihat drop down menu!

Amazon memilih kata search dibandingkan quick search. Karena pada dasarnya ini memang area untuk melakukan pencarian “buku”, tak ada pilihan lain selain search. Kecuali ada pilihan “slow search” maka perlu ada “quick search”.

Buatlah desain se simple mungkin, tapi tetap memikirkan alur berpikir user!

Demikian hasil ulasan pada chapter 1 buku ini. Lain kali akan kita ulas, seperti apa fakta real di dunia nyata tentang perlakuan user dengan membuat desain yang memahami keinginan para pengguna.

Yogyakarta, 18 Mei 2017