“Nggak bisa nyium kirain kena COVID, ternyata bukan siapa-siapa #eh”

Dalam ilmu interaksi manusia dan komputer, aspek manusia dibedakan menjadi 3 bagian penting, yaitu sensors, responders, dan brain. Sensor manusia terdiri dari 5 panca indera, diantaranya indera penciuman. Jika teknologi yang berkembang sudah dapat mengirimkan dan menerima suara yang dapat ditangkap indera pendengaran, serta gambar yang dapat dilihat melalui indera mata, dapatkah kita mengirimkan dan menerima bau?

Penelitian mengenai electronic nose sudah dimulai sejak tahun 1954, sejak Hartman membuat sensor gas pertama. Studi mengenai sensor bau terus berlanjut hingga munculnya array dari 6 termistors, oleh Moncrief (1961), kemudian muncul lah electronic nose pertama, di tahun 1982 oleh Persaud dan Dodd. Penciuman elektronik terus berkembang, dan banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman. Diantaranya untuk mengontrol kualitas produk atau melakukan klasifikasi, seperti pada proses pembuatan kopi, tembakau atau produk lain.

Metode penciuman elektronik yang umum menggunakan metode Fuzzy Learning Vector Quantization (FLVQ) dan metode Quartz Crystal Microbalance (QCM). Metode FLVQ menggunakan jaringan syaraf tiruan berbasis vektor quantization dengan menggabungkan teori fuzzy dengan kemampuan pengenalan aroma. Bagian sistem dibagi menjadi 3, yang masing-masing memiliki fungsi untuk mengubah besaran aroma menjadi besaran listrik, mengukur besaran perubahan frekuensi dan sistem jaringan syaraf tiruan melakukan pengenalan aroma.  Sedangkan metode QCM bekerja dengan memasukkan uap aroma ke ruang sensor, lalu uap tersebut diekstraksi menjadi komponen penyusun uap. Setiap komponen diukur intensitas dan konsentrasinya menggunakan sensor QCM dan untuk menangkap aroma, lapisan zat kimia ditamhankan pada osilator.

Kembali pada pertanyaan diatas, bisakah kita mengirimkan bau? Profesor Harvard David Edwards memperkenalkan produk ke pasar yang memungkinkan orang berbagi dan mengirimkan bau melalui smartphones di tahun 2014. Melalui perusahaan Edwards, Vapor communications, David Edwards mengumumkan peluncuran oPhone DUO dan aplikasi pendampingnya, oSnap. Dengan oSnap, pengguna dapat menandai foto mereka dengan aroma unik, yang kemudian dapat diteruskan dan diterima melalui email, Facebook, dan Twitter di hotspot tertentu di mana terdapat oPhone. OPhone berfungsi sebagai perangkat keras yang memancarkan bau yang dikirim ke pengguna setelah mereka membuka pesan. OPhone sarat dengan apa yang disebut oChips, yang dapat dengan mudah diganti dan bertanggung jawab untuk menghasilkan oNotes — aroma yang sebenarnya.

Pengguna yang mengirim foto dengan aplikasi oSnap dapat memilih di antara 300.000 kombinasi aroma unik saat membagikan gambar mereka, menurut perusahaan. Edwards, yang membangun sistem berbasis aroma dengan bantuan lanjutan mantan mahasiswa Universitas Harvard Rachel Field, mengatakan pengguna dapat menciptakan aroma dengan menggulirkan 32 opsi di aplikasi, dan menambahkan hingga delapan aroma ke dalam campuran. oPhones pertama dijual dengan harga $ 150, cukup sepadan dengan pengalaman pengguna.

Penemuan ini sangat berharga, membuat aroma foto makanan Instagram menjadi jauh lebih realistis. Lebih jauh, penemuan ini dapat digunakan untuk mengirimkan bau aroma yang dijual di toko parfum untuk memberikan gambaran bagi pengguna dalam jual beli online. Bisa juga untuk mengirimkan bau durian, jual beli durian tidak perlu lagi harus datang ke ke penjualnya, bisa dengan mencium aromanya saja dari jauh via smartphones, tinggal pesan, dan kirim. Wow! impressive.

Sumber :

https://www.bostonmagazine.com/news/2014/06/17/ophone-launch-harvard-osnap-app/

1. Don’t make me think – Steve Kurg
2. Usability testing – Jacobs Nielsen
3. 100 Things every designer needs to know about people – Susan M. Weinscheck
4. Sprint how to solve big problems and test new ideas in just five days – Jake Knapp
5. Handbook of usability testing – Jeffrey Rubin and Dana Chisnell
6. Interaction design – Sharp, Rogers, Preece
7. Laws of UX – Jon Yablonski
8. Measuring user experience – Tom Tullis, Bill Albert
9. The design of everyday things – Don Norman
10. Human-Computer Interaction – I. Scott MacKenzie
#tenthings #okesip

 

Prediksi para ilmuwan mengenai hilangnya sejumlah pekerjaan karena digantikan oleh otomatisasi mesin membuat kalangan pekerja merasa khawatir. Lalu, pekerjaan seperti apa yang dapat bertahan, bahkan tidak dapat digantikan oleh robot?
.
Pekerjaan tersebut antara lain adalah pekerjaan yang membutuhkan imajinasi seperti penulis. Robot mungkin bisa saja memproduksi tulisan berdasarkan data saran judul dan pedoman penulisan, tapi orisinalitas hasil karya robot tentu tidak sebaik manusia.
.
Pekerjaan yang membutuhkan kreativitas seperti arsitek, tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Kreativitas manusia tidak terbatas, dan anugerah ini diberikan Tuhan sebagai pemberian yang sangat besar, tidak dapat ditiru oleh mesin.
.
Pekerjaan yang membutuhkan empati, seperti dokter, psikolog, perawat, pengasuh. Banyak program artificial intelligence yang dapat mendeteksi penyakit, tetapi hanya manusia yang dapat mengenali emosi manusia, sehingga bisa melakukan penanganan yang lebih tepat, salah satunya saat dokter harus menyampaikan kabar buruk mengenai penyakit yang diderita pasien.
.
Pekerjaan yang membutuhkan kasih sayang, seperti guru dan dosen. Meskipun teknologi di dunia pendidikan sudah berkembang dan murid bisa mendapatkan materi dari berbagai sumber, namun peran guru tidak dapat digantikan oleh robot. Guru dan dosen sebagai pengajar dalam membimbing dan mendidik murid harus memiliki empati dan kesabaran, agar muridnya dapat memahami pelajaran dengan baik.
.
Jadi, kalau selama ini kita sebagai dosen hanya datang, memberikan materi dan pulang, apalagi cuma ngasih tugas, tidak memberikan arahan dan mengajarkan kasih sayang, siap-siap untuk digantikan robot ya!
Purwokerto, 5 April 2021

Dampak revolusi industri 4.0 di Indonesia antara lain hilangnya sekitar 23 juta pekerjaan, dan secara berangsur-angsur akan digantikan oleh mesin otomatis diperkirakan hingga tahun 2030. Sebagai gantinya, 27-46 juta pekerjaan baru lahir, dan 10 juta diantaranya belum pernah ada, bahkan kita tidak pernah kebayang sebelumnya. Meskipun ada kekhawatiran yang dapat dimengerti tentang apakah akan ada cukup pekerjaan bagi pekerja dengan adanya otomatisasi potensial, sejarah menunjukkan bahwa ketakutan tersebut mungkin tidak berdasar: seiring waktu, pasar tenaga kerja menyesuaikan dengan perubahan permintaan pekerja dari gangguan teknologi.
Dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan investasi yang memadai, terdapat cukup banyak penciptaan lapangan kerja baru secara global untuk mengimbangi dampak otomatisasi. Namun, tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa pekerja memiliki keterampilan dan dukungan yang diperlukan untuk transisi ke pekerjaan baru. Tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi adalah menyiapkan skill dan kompetensi baru, dan setiap perguruan tinggi harus dapat berlari kencang sebelum kehilangan momentum. Bonus demografi 2045 di Indonesia akan sia-sia jika kita tidak cepat merespon keadaan ini. Seperti rumus fisika, dimana momentum=massa x kecepatan, maka siapa yang tidak cepat berubah, dia akan kehilangan momentum, hilang tergerus putaran roda zaman.
Purwokerto, 1 April 2021

Setelah selesai kuliah S3, seorang doktor seharusnya memiliki atau menambah skill berikut ini

Knowledge skill

Bertambahnya satu gelar pada nama kita, seharusnya menambah skill dan knowledge tentang bidang ilmu yang kita miliki. Perkuliahan selama S3 tentu menambah keterampilan dalam meneliti, diantaranya keterampilan membaca, menulis,  analitis, dan keterampilan dalam problem solving. Ilmu yang didapatkan selama kuliah tentu akan menambah satu level pengetahuan dalam kehidupan seorang doktor.

Managing skill

Kemampuan mengelola sudah seharusnya dimiliki oleh seorang lulusan S3. Diantaranya mengelola waktu, keuangan, dan mengelola pekerjaan. Saya biasanya akan membagi beberapa pekerjaan menjadi 4 prioritas.

  • Penting mendesak (kerjakan sekarang),
  • Penting tidak mendesak (tetapkan waktu deadline, dicicil),
  • tidak penting mendesak (delegasikan),
  • tidak penting tidak mendesak (abaikan/jangan dikerjakan).

Membagi beberapa prioritas ini memudahkan kita dalam menentukan keputusan, sehingga seorang doktor yang bertahun-tahun telah ditempa banyak kesulitan, akan lebih mudah dalam menangani hal ini.

Collaborating dan communication skill

Saat kuliah S3, kita akan berinteraksi dengan banyak orang. Teman-teman kuliah dan dosen kita, biasanya adalah “orang penting” di kampus/instansinya. Kemampuan kita untuk saling kolaborasi dan berkomunikasi yang baik adalah bekal untuk menunjang pekerjaan kita setelah kembali ke institusi asal. Jadi, berbuat baiklah pada mereka, dan buatlah hubungan sebaik mungkin.

Apa kabar hari ini Bunda? Apakah hari-hari Bunda dipenuhi dengan banyak aktivitas? Terutama menemani anak-anak dalam belajar online? Apakah Bunda mengalami rasa jenuh, capek, dan tertekan? Bagaimana pula keadaan putra putri Bunda? Apakah mereka juga mengalami hal yang sama?

Terus terang, pandemi coronavirus 2019 (COVID-19) memiliki efek psikologis dan sosial yang mendalam. Gejala sisa psikologis pandemi pun, mungkin akan bertahan selama berbulan-bulan dan tahun-tahun mendatang. Penelitian menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 dikaitkan dengan perasaan dan peristiwa kesusahan, kecemasan, ketakutan penularan, depresi dan insomnia pada populasi umum dan di antara para profesional perawatan kesehatan. Hal lain yang menjadi persoalan jiwa adalah adanya isolasi sosial, kecemasan, ketakutan penularan, ketidakpastian, stres kronis dan kesulitan ekonomi dapat menyebabkan perkembangan atau eksaserbasi depresi. Kondisi kejiwaan terkait stres termasuk suasana hati dan gangguan penggunaan zat dikaitkan dengan perilaku bunuh diri. Penyintas COVID-19 juga mungkin berisiko tinggi untuk bunuh diri. Krisis COVID-19 dapat meningkatkan angka bunuh diri selama dan setelah pandemi. Konsekuensi kesehatan mental dari krisis COVID-19 termasuk perilaku bunuh diri cenderung hadir dalam waktu lama dan mencapai puncaknya setelah pandemi yang sebenarnya (Sher, 2020). Studi yang dilaporkan secara luas yang memodelkan efek pandemi covid-19 pada tingkat bunuh diri memperkirakan peningkatan mulai dari 1% hingga 145%, sebagian besar mencerminkan variasi dalam asumsi yang mendasari (John et al., 2020).

Di China, pandemi COVID-19 berpengaruh pada lebih dari seperlima kesehatan mental siswa SMP dan SMA. Temuan lain menunjukkan bahwa ketahanan dan koping positif mengarah pada status kesehatan psikologis dan mental yang lebih baik di kalangan siswa (Zhang et al., 2020). Sebaliknya, koping negatif merupakan faktor risiko kesehatan mental. Istilah koping adalah investasi upaya sadar diri, untuk memecahkan masalah pribadi dan interpersonal, untuk mencoba menguasai, meminimalkan atau mentolerir stres dan konflik. Mekanisme koping psikologis biasanya disebut strategi koping atau keterampilan koping. Pencegahan kasus bunuh diri selama krisis COVID-19 wajib ditingkatkan, dan sangat penting untuk mengurangi stres, kecemasan, ketakutan, dan kesepian pada populasi umum. Harus ada kampanye media tradisional dan sosial untuk mempromosikan kesehatan mental dan mengurangi tekanan. Diperlukan penjangkauan secara aktif, terutama bagi orang-orang dengan riwayat gangguan kejiwaan, penyintas COVID-19, dan lansia. Studi penelitian diperlukan tentang bagaimana konsekuensi kesehatan mental dapat dikurangi selama dan setelah pandemi COVID-19.

Bagaimana dengan upaya pencegahan ide bunuh diri pada remaja di Indonesia? Kami mengembangkan prototipe aplikasi SERIINA untuk mendeteksi dini ide bunuh diri pada remaja. Aplikasi ini melibatkan sekolah dan orang tua dalam memantau perkembangan kejiwaan mereka. Aplikasi ini membantu identifikasi awal keadaan jiwa siswa dengan mengisi kuesioner. Siswa dan guru dapat berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai kondisi kejiwaannya, serta dapat melihat rapor kesehatan jiwa melalui menu laporan. Aplikasi ini telah didaftarkan hak ciptanya dengan nomor 000222856. Semoga aplikasi ini dapat bermanfaat dan berkembang di kemudian hari.

Purwokerto, 29 Januari 2021

Sumber :

John, A., Pirkis, J., Gunnell, D., Appleby, L., & Morrissey, J. (2020). Trends in suicide during the covid-19 pandemic. The BMJ, 371(November), 1–2. https://doi.org/10.1136/bmj.m4352

Sher, L. (2020). The impact of the COVID-19 pandemic on suicide rates. QJM : Monthly Journal of the Association of Physicians, 113(10), 707–712. https://doi.org/10.1093/qjmed/hcaa202

Zhang, C., Ye, M., Fu, Y., Yang, M., Luo, F., Yuan, J., & Tao, Q. (2020). The Psychological Impact of the COVID-19 Pandemic on Teenagers in China. Journal of Adolescent Health, 67(6), 747–755. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2020.08.026

 

Ini foto ayahku waktu masih muda

 

Dia bukan ayah yang sempurna, aku yakin dia punya banyak kekurangan. Tapi bagi keluargaku, dia ayah yang bertanggung jawab. Lihat betapa gagahnya dia waktu muda. Perkara tua nya jadi pikun, pemarah dan lemah, itu karena stroke yang menyerangnya 8 tahun silam. Anak-anak kecil yang sering lewat di depan rumahku, sering menggoda dan meledeknya, dan ibuku langsung membelanya. Anak-anak kecil itu tidak tahu, ayahku dulu seorang lelaki gagah dan garang. Ayahku seorang karateka, sekali pukul, orang bisa patah tulang. Di depan anak-anaknya yang kebanyakan memang perempuan, ayahku sangat concern pada penampilan kami. Dia yang menyuruh rambut kami disisir rapi, memakai bedak, pakai lipstik. Dia suka marah kalau melihat kami, anak perempuannya, pergi-pergi cuma pakai sandal. Baginya itu gak keren, harus pakai sepatu, katanya.

Ayahku seorang tentara berpangkat rendahan. Waktu muda, seringkali keluarga kami dihina dan dilecehkan. Apalagi keluarga besar kami memang banyak anggota TNI, termasuk pakde dan paklik kami. Dulu waktu kami mau berangkat kuliah, banyak orang menyangsikan kami, apakah kami bisa menyelesaikan kuliah kami?. Alhamdulillah semua anaknya, 4 orang sudah menyelesaikan sarjana. Kakakku sarjana ekonomi, aku sarjana komputer, adikku sarjana pendidikan, si bungsu sarjana teknik. Kami sudah bekerja dan kami sudah mandiri, tidak lagi bergantung pada orang tua. Salah satu bentuk balas dendam yang positif.

Ayahku dulu memang jarang ada di rumah, hidupnya banyak ditempat kerja sambilan. Siang jadi tentara, malam jaga di gudang Indomarco. Kurang tidur, rokok, kopi, makan sembarangan, selama bertahun-tahun membuatnya sering mengalami hipertensi. Kelak, hipertensi inilah yang memicu serangan stroke.

Tapi meskipun begitu, ayahku masih bisa jalan sendiri, mandi sendiri, mengerjakan berbagai hal sendiri. Ayahku sejak pensiun dan stroke, selama 8 tahun justru mengisi hari-harinya dengan memperbanyak ibadah. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, kemana saja keluarga kecil kami berwisata. Dia senang diajak jalan-jalan, semangat kalau diajak pergi. Kami mengganti waktu mudanya yang sempit bersama anak-anak, dengan quality time di usia senjanya.

Ini foto terakhir kami, saat aku selesai program doktoral di UGM. Saat hasil fotonya jadi, ayahku sering nunjuk-nunjuk foto ini. Mungkin mau bilang, anakku udah selesai doktor ya. Aku tahu dia bangga, tapi tidak diperlihatkan. Ayahku, dan juga ibuku tidak sempat mengenyam ilmu parenting, tapi yang aku ingat, mereka mengajarkan hidup jujur, sederhana, fokus pada tujuan, prinsip hidup yang kuat. Kami dibesarkan dengan penuh rasa kepercayaan, mereka percaya, kami akan jadi anak yang baik, tanpa harus diatur, tanpa harus begini dan begitu. Kami diberikan kebebasan memilih jalan hidup, memilih pasangan, menentukan karir, memilih sekolah sendiri. Ayahku dan ibuku bukan cerminan keluarga ideal, sesekali mereka bertengkar hanya pada persoalan sepele. Tapi mereka bisa mengatasi itu semua, pernikahan mereka kekal hingga akhir hayat. Ayahku yang tegas, ibuku yang penyabar dan sederhana. Kombinasi yang serasi. Aku bangga pada mereka.

Tanggal 6 Januari saat serangan stroke yang keempat kalinya, ayahku sudah tidak kuat lagi. Allah mengambilnya untuk selama-lamanya. Siap tidak siap, kami harus ikhlas. Kami telah memaafkan semua orang-orang yang menyakiti kami, dan mohon dimaafkan pula kesalahan keluarga kami. Semoga Allah memberikan tempat terbaik disisiNya.

Purwokerto, 17 Januari, 2021, disela-sela hari Minggu yang sibuk

 

 

Berlindung di balik kata “bukan passion” sebenarnya kurang pas untuk dijadikan alasan mengapa kita tidak perform dalam pekerjaan kita. Suka atau tidak suka, mau tidak mau, terpaksa atau tidak terpaksa, passion atau pun bukan, kita tetap dituntut untuk bisa bekerja dengan baik. Sebab tidak ada satu organisasi pun yang ingin punya pegawai yang kurang bisa menjalankan tugas dengan baik.

Jika kita sudah memilih satu pekerjaan, apalagi untuk menghidupi keluarga, maka sudah saatnya kita melakukan pekerjaan ini dengan penuh tanggung jawab. Sudah pantaskah saya digaji sekian, jika pekerjaan saya sekian? Jika kita digaji 5 juta, tapi kita kerja layaknya orang yang digaji 2 juta, maka yang 3 juta itu sebenarnya bukan hak kita, tapi kita justru berikan itu untuk menafkahi anak kita. Bukankah kita jd orang yang dzalim?

Yuk, be the best version of you!

— sebagai bahan renungan di malam pergantian tahun —

“interaction elements”

 

Interaksi yang terjadi ketika manusia melakukan sebuah tugas menggunakan teknologi komputer biasanya berorientasi pada sebuah tujuan. Tujuan tersbut misalnya, mengirim email, membuat program, atau memasukkan posisi pada GPS, namun terkadang juga tidak ada tujuan khusus, seperti hanya menjelajahi web atau chating dengan teman. Pada intinya, ketika pengguna terlibat dalam sebuah aktivitas menggunakan teknologi komputasi, maka dapat dikatakan interaksi sedang berlangsung.

Sebelum komputer memasuki setiap aspek kehidupan manusia di rumah dan di tempat kerja, tampilan antar muka dan kontrol yang dilakukan manusia terbatas pada perangkat fisik dengan tujuan tunggal. Peralatan kontrol seperti saklar, kenop, tombol, kemudi, pegangan, tuas, dan sebagainya hadir melalui proses desain yang melibatkan teknik dan manufaktur (disebut hard-control). Kemunculan komputer kemudian mengubah cara manusia berinteraksi melalui antarmuka. Kelenturan tampilan melalui perangkat lunak menghadirkan kemungkinan tidak terbatas pada ruang fisik yang relatif kecil, hal inilah yang disebut soft-control. Adanya toolbar, scrollbar slider, combo box, dan beberapa tools lain pada perangkat lunak sebagian besar dimanipulasi oleh kontrol fisik (mouse dan keyboard).

Pergerakan mouse ke kiri dan ke kanan diikuti pula oleh pergerakan kursor pada layar yang memiliki pemetaan kongruen. Begitu pula jika mouse digerakkan maju, maka kursor akan bergerak ke atas, hal ini disebut spatial relationship dalam istilah IMK. Istilah lain dalam pergerakan mouse adalah control-display gain (CD gain). CD gain dihitung dengan membagi pergerakan mouse dan kursor. Jika mouse bergerak sebanyak 3 cm dan kursor bergerak 3 cm, maka CD gain yang didapat adalah 3/3=1. Jika kursor bergerak 6 cm, maka CD gain nya adalah 6/3=2. Pengguna dapat mengatur CD gain (pointer speed) dengan menggerakkan slider menjadi “slow” pada kontrol panel.

Tugas yang berhubungan dengan pengetikan dan pemosisian kursor pada umumnya terjadi secara interaktif dan responsible. Akan tetapi, kadangkala, kinerja manusia dan pengalaman interaksi terpengaruh saat umpan balik tertunda. Penundaan antara tindakan masukan dan respons terkait pada tampilan disebut latency atau keterlambatan. Latency  biasa dihadapi pengguna saat berinteraksi dengan internet. Latency dapat disebabkan oleh properti perangkat masukan, perangkat keluaran, dan perangkat lunak. Mode komunikasi, konfigurasi jaringan, pengolah angka, dan perangkat lunak aplikasi semuanya berkontribusi padanya. Latency akan meningkat secara dramatis ketika keluaran memerlukan komputasi yang substansial untuk rendering grafis.

Demikian penjelasan mengenai interaction elements, semoga membantu

Purwokerto, Desember 2020

 

Do we have the same answer?  😀

Jika Anda menjawab pertanyaan diatas dengan : 1. BOOKS, 2. RANDOM, 3. FORK, 4. PANTS, 5. PULSE, 6. SIX, selamat, kita satu server! Mengapa kita bisa menebak kata-kata tersebut dengan mudah? Salah satunya karena adanya “redundansi dalam bahasa“, yang dalam ilmu interaksi manusia dan komputer (IMK), ini merupakan bagian dari faktor manusia.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan redundansi dalam bahasa, kita akan membahas lebih dulu tentang bahasa. Bahasakemampuan mental yang memungkinkan manusia berkomunikasi — tersedia secara universal untuk hampir semua manusia. Hebatnya, bahasa sebagai ucapan tersedia tanpa usaha. Anak-anak belajar berbicara dan memahami pembicaraan tanpa usaha sadar saat mereka tumbuh dan berkembang. Menulis, sebagai kodifikasi bahasa, adalah fenomena yang jauh lebih baru. Belajar menulis menuntut usaha, dan itu bisa jadi sebuah usaha yang besar, yang meliputi berapa tahun manusia belajar dan kemudian menerapkannya secara praktik. Daniels dan Bright membedakan bahasa dan tulisan sebagai berikut: “Umat manusia ditentukan oleh bahasa; tapi peradaban ditentukan oleh tulisan. ” (Daniels dan Bright, 1996, hlm. 1). Kata-kata Daniels dan Bright menjadi pengingat bahwa status budaya dan teknologi yang terkait dengan peradaban dimungkinkan oleh sistem penulisan. Memang, istilah prasejarah, sebagaimana diterapkan pada manusia, berawal dari kedatangan makhluk mirip manusia (*kita menyebutnya manusia purba), jutaan tahun yang lalu, hingga munculnya tulisan. Tulisan itulah yang menjadi pertanda sejarah yang tercatat, dimulai hanya enam ribu tahun yang lalu.

Di IMK, minat para ilmuwan pada bahasa diutamakan pada sistem penulisan dan teknologi yang memungkinkan komunikasi dalam bentuk tertulis. Teks adalah materi tertulis pada halaman atau tampilan. Bagaimana cara mendapatkan topik yang menarik dan menantang para peneliti IMK, serta para insinyur dan desainer yang membuat produk yang mendukung pembuatan teks, atau entri teks. Meskipun entri teks sangat penting dalam IMK, minat para ilmuwan terhadap bahasa dalam bentuk tertulis.

Redundansi dalam bahasa 

Sebuah percobaan terhadap native speaker (penutur asli) dapat dengan segera mengisi kata, frasa dan huruf yang sengaja di hilangkan. Pada gambar bagian (a) di bawah, 71 huruf vokal dihilangkan, yang berarti teks telah disingkat sekitar 29%. Banyak kata yang mudah ditebak pada percobaan teks ini (mis., Smmr → summer, thrgh → through) dan dengan sedikit usaha inti teksnya dapat terlihat jelas. Kata lain yaitu,  summer [smmr], garden [grdn], dan scent [scnt]. Bagian (b) serupa dengan percobaan pertama, tapi huruf pertama dari setiap kata dibiarkan utuh, dan 62 vokal dihilangkan, sehingga kalimatnya menjadi sedikit lebih mudah untuk diuraikan dibandingkan yang (a).

Contoh lain, pada percobaan diatas, ada sebagian teks dihilangkan, namun kata-kata tersebut tetap dapat dipahami. Pesan teks SMS adalah contoh yang terdokumentasi dengan baik. Selain menghapus karakter, pengodean ulang sering digunakan. Ada banyak teknik yang digunakan, seperti menggunakan suara (th@s→that’s, gr8→great) atau menggunakan akronim (w→with, gf→girlfriend, x→times) atau  (Grinter dan Eldridge, 2003).

Pada zaman kita masih menggunakan SMS (Short Message Service) atau Telegram, jumlah karakter sangat penting, sehingga seringkali kita menyingkat kata, seperti “yang” menjadi yg, juga menjadi “jg”, “maaf baru bales” menjadi “mbb”, “aku dan kamu” menjadi “kita” (*eh, nggak bercanda ini mah…, bercandaaaaaa 😀 ).

Anyway, sayangnya, ada sisi yang lebih berbahaya dari redundansi dalam teks tertulis. Kesalahan umum dalam menulis adalah adanya kata-kata yang tidak berguna, dengan penghapusan kata-kata tersebut dipromosikan di banyak buku tentang gaya penulisan. Strunk dan White menyebutkan untuk menghilangkan kata-kata yang tidak perlu, dan menyarankan untuk mengurangi, misalnya, “he is a man who” menjadi “he,” atau “this is a subject that” menjadi “this subject” (Strunk and White, 2000, hlm. 23). So, jangan sembarangan menyingkat kalimat atau kata ya!, bisa jadi nanti salah persepsi atau salah paham bagi penerima pesan. Oke deh, sekian penjelasan saya mengenai redundansi dalam bahasa, terima kasih….

Purwokerto, 29 Oktober 2020

Dirangkum dari buku Human-Computer Interaction An Empirical Research Perspective karangan I. Scott MacKenzie